Sewaktu berselancar di dunia tak berbatas, ketemulah dengan situs ini:
http://www.iptek.apjii.or.id/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku4/4-081.pdf
Disitu dituliskan bahwa sanse tipe trifasciata prain (baru tahu namanya begini) yang lumrah ditanam dalam pot di pinggir jalan tol dan dijual murmer di abang-abang “nursery” emperan jalan ternyata memiliki khasiat obat: rimpangnya untuk obat batuk dan daunnya untuk obat digigit ular (snake plant vs real snake hehehe…jeruk makan jeruk dong…!)
Untuk obat batuk, gunakan rimpang (bonggol akar) sanse trifasciata yang telah dikeringkan dan dibubukkan (dibikin serbuk, maksudnya). Nah, campurlah 2 sendok teh serbuk tadi dengan 1 gelas air matang panas. Aduk rata, dinginkan, lalu langsung diminum sekaligus. Dosisnya? Nah ini yang perlu dicoba dan diteliti lebih jauh (soalnya disitu ngga dijelasin hehehe…)
Pastinya khasiat obat tersebut dikarenakan daun dan rimpang sanse trifasciata mengandung saponin dan kardenolin, Disamping itu daunnya juga mengandung polifenol.
Saponin, kardenolin, polifenol, apaan tuh? Pastinya suatu zat yang penting (kalo nggak ya mosok sengaja ditulis, ya?). Percisnya please tanyakan ke yang ahli dong. Bukan disini hehehe...
Selasa, 27 Mei 2008
Sanse lilian
Namanya lilian true.Ada versi yang tumbuh membentuk lingkaran dalam ukuran setara futura. Ada pula yang khas berbatang pedang panjang ala Lorentii. Warna hijaunya tegas dengan pinggiran berwarna kekuningan. Berdaun keras dan rada mengkilat. Pertumbuhannya nggak cepet-cepet amat dan kalo ditaruh di dalam ruangan jadi rada pendek gitu. Etiolasi mungkin.
So, paling nggak seminggu 2x musti dikeluarin untuk mendapatkan daun cerah dan pertumbuhan optimal. Sesekali disemprotin pupuk organik boleh juga.
Kebetulan lilian true model pedang milikku pernah kena bercak busuk kering yang cukup lama. So bentuknya belum pernah tinggi-tinggi amat, setiap muncul bercak dikit maka kupotek. Begitu terus. Trus nggak berani sering-sering kusemprot pupuk, dan maka amat jarang pula kupisah-pisah.
Kalo lilian true yang versi cebol baru dapet sebulanan deh. Hasil hunting di tukang kembang sekitaran RS Persahabatan. Awalnya cuma pingin cuci mata dan olah raga pagi. Cinta pandangan pertama justru tertuju pada bambu air dan melati air variegata (itu nama kata abangnya loh!, emang ada gitu? ia versi kerdilnya melati air dan dengan daun berbercak krem), dan bonusnya beli sanse. Itupun setelah harga sepakat kutinggal pulang dulu (taelah....nggak niat amat yak?, siang baru kubayar hehehe...). Si abang itu punya lumayan banyak koleksi sanse. Sayang ngehargainnya komersil banget. Semakin keliatan kita tertarik maka semangkin gila harga yang ditawarkan. So, aku memilih cara muter dulu dengan beli taneman lain sebelum beli sanse-nya. Itupun yang dia nggak tahu namanya (waktu itu aku juga nggak tahu sih hehehe, baru semingguan kemudian liat gambarnya di buku Bu Lanny). Waktu mbeli, sempet juga aku nawarin barter dengan melati airku yang bejibun karena OD pupuk. Sayang dia nggak mau hikhikhik...
Senin, 26 Mei 2008
Sanse group
Grup ini adanya di yahoo, alamat di http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/
Kayaknya udah banyak orang Indonesia yang rajin posting disini. Diantaranya Pak Fadjar Marta yang kalo nggak salah rajin juga nulis di Trubus. Dari postingan beliau ketahuan kalo beliau ini punya koleksi-koleksi ciamik berkelas. Nggak beda sama Kiki hehehe (I wish!)...
Kiki sendiri sih jarang posting kesitu. Mbaca juga jarang hehehe...terakhir posting ya waktu salah satu sanse-ku berbunga. Sangking gembiranya kusebar-sebar deh tuh foto. Waktu itu sih dikasih tahu nama si sanse itu apa berdasarkan buku legendarisnya Pak Juan Chahinian. Cuma sekarang lupa dan malu nanya lagi hehehe...
So, buat penggemar sanse yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kelancaran menulis dalam bahasa Inggris, sile gabung ke grup di atas.
Kayaknya udah banyak orang Indonesia yang rajin posting disini. Diantaranya Pak Fadjar Marta yang kalo nggak salah rajin juga nulis di Trubus. Dari postingan beliau ketahuan kalo beliau ini punya koleksi-koleksi ciamik berkelas. Nggak beda sama Kiki hehehe (I wish!)...
Kiki sendiri sih jarang posting kesitu. Mbaca juga jarang hehehe...terakhir posting ya waktu salah satu sanse-ku berbunga. Sangking gembiranya kusebar-sebar deh tuh foto. Waktu itu sih dikasih tahu nama si sanse itu apa berdasarkan buku legendarisnya Pak Juan Chahinian. Cuma sekarang lupa dan malu nanya lagi hehehe...
So, buat penggemar sanse yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kelancaran menulis dalam bahasa Inggris, sile gabung ke grup di atas.
Sanse kepotong
So, setelah mengucap bismillah, kuambil pot kecil dan kupenuhi dengan media dan si metalika kecil yang kepotong. Setelah berdirinya OK aku sirami dengan obat semprot untuk akar yang kubeli dari Pak Gendut. Setelahnya aku umpetin dia di bawah bangku taman depan. Bismillah, kamu tumbuh ya....
Alhamdulillah kini hampir sebulan sejak upacara itu dan ia telah semakin tinggi dan kelopaknya siap membuka menghadang dunia. Semoga kau terus tumbuh sehat ya....amin.
Sanse mati (2)
Salah satu gold flame-ku yang berdaun dua dan udah numbuh calon daun di tengah mendadak keliatan rada gimana gitu. Setelah kucabut dari media, ternyata dua daun dewasanya itu telah membasah. Tanda khas busuk basah. Setahuku sih belum ada cara lain menanganinya kecuali dengan cara membuang bagian yang terkena dan menyemprotnya dengan pestisida. Well...dua hal yang paling kubenci.
Dus untuk mencegah perluasan dampak rambatan ke sanse lain maka dengan setengah terisak (cengeng ya....) kucabuti dua daun dewasa itu. Sisa pucuk yang kayaknya masih sehat lalu kutitipkan di pot si centong di luar.
Sehari dua, ia akhirnya mengering dan.......mati. Hik hik, matilah gold flame-ku sayang. Cepet-cepet kuusap air mata yang hampir menitik sebelum anak-anak liat (as usual...mommy acts though).
Apa mau nyemprotin pestisida biar nggak nular? Ah...kayaknya belum deh...belum sekepepet itu....semoga segera ketemu cara organik untuk mencegah dan mengobati busuk basah. Siapa tahu?
Dus untuk mencegah perluasan dampak rambatan ke sanse lain maka dengan setengah terisak (cengeng ya....) kucabuti dua daun dewasa itu. Sisa pucuk yang kayaknya masih sehat lalu kutitipkan di pot si centong di luar.
Sehari dua, ia akhirnya mengering dan.......mati. Hik hik, matilah gold flame-ku sayang. Cepet-cepet kuusap air mata yang hampir menitik sebelum anak-anak liat (as usual...mommy acts though).
Apa mau nyemprotin pestisida biar nggak nular? Ah...kayaknya belum deh...belum sekepepet itu....semoga segera ketemu cara organik untuk mencegah dan mengobati busuk basah. Siapa tahu?
Sanse ular
Saat googling, Kiki baru tahu kalo sanse yang lorek-lorek hijau panjang itu juga punya nama keren trifasciata atau ”snake plant”, nggak cukup hanya disebut lidah mertua (ih...kenapa sih disebut begitu, please deh....on account of my soooo beloved-mother in law!).Ih...ternyata snake plant ya....padahal aku paling grogi sama ular. Ngeliat di TV sih nggak apa-apa, tapi liat si sneki, bonekanya Abim, langsung jadi gemeteran merinding. Hmmmm.....so again, taneman favoritku itu ternyata bernama alias taneman ular ya...? So, aku nggak phobia-phobia amat sama ular khan...?
Hihihi...membela diri aja kerjanya...
Sanse lorentii mini
Nah, kembali ke si mini. Dia tuh bagus banget kalo dijadiin rangkaian dan ditaruh di meja. Sayang kayaknya dia lagi kurang sehat, so makanya Kiki tarok diluar dulu dan dibiarin rada padet medianya, biar beranak deh. Ntar kalo udah ada tunas baru maka tinggal kres kres...bay bay mom hehehe...
Sanse meliuk
Nah disaat bedol pot itulah ketemu dengan lorenti yang unik karena pertumbuhannya yang terhadang pot gerabah maka ia harus mencari celah dengan cara meliukkan tubuhnya. Lesson learned: taneman aja demikian kerasnya berjuang menyesuaikan diri dengan tempat hidupnya, mosok manusia kalah?
Well...sekarang lorentii ini kutaruh percis di batas teras dengan kolam, so setiap pagi saat berangkat kerja aku bisa menyapanya dan mengingatkanku agar terus berjuang mencapai apa yang Alloh ingin aku lakukan di sisa hidupku ini.
*sesuai kepercayaan Cina, sanse dipercaya mendatangkan rejeki loh...
Sanse mungil
Sanse ini belum bernama.Kata yang jual sih anakan kuku bima. Tapi kok sepintasan mirip katanya ya? Hehehe...gitu aja koq repot...apalah arti sebuah nama kecuali untuk membedakannya dengan yang lain. Nah loh? Jadi namanya apa dong?
Well...karena dia masih kecil dan imut, maka kujuluki aja dia si mungil . Kuku bima terlalu buas dan berlebihan menimbang si penjual yang rada asbun. So si mungil, welcome to my home. It'll be your home forever, so be strong, OK.
(ya...be strong kalo sekali-kali kena semprot pistol aer adek Abim saat main beranteman dengan embak Balqis yaa....)
P.S. Andai boleh bercita-cita, mudah-mudahan kelak ia menjadi Kirkii "Hawaian Star" seperti di bukunya Flonaserial tentang Sanse halaman 66. Amin.
Sanse kuning
Seminggu setelah beli si tumpuk, Kiki lewat lagi di depan kios bunga depan mesjid Babussalam. Ehhh...si hahni kuning masih ada. Eh, kamu hahni bukan sih? Kok kamu belum dibeli? Si abang kemahalan ya nawarin kamu? Atau dikau memang ingin bertemu lagi dengan si tumpuk bekas teman sebangkumu itu?Ya udah, secara dompet masih memadai, kugondol ia pulang tanpa media. Pok pok pok bentar (ini kali bunyinya waktu kumasukin dia ke pot dan kutuangi pasir malang). nggak sampai lima menitan, maka tampil cantiklah ia menyambut tamu di foyer-ku. Semoga dikau awet yaaa....
Sanse tumpuk
Sanse ini sebulanan jadi warga rumah. Seperti biasa, nggak tahu namanya. Ia hasil jatuh cinta pada pandangan kedua. Karena pandangan pertama jatuh pada sebuah hahni kuning yang bentuknya mirip punyaku dulu yang udah mangkat. Pikir-pikir isi dompet cuma tinggal selembar. Artinya cuma bisa beli salah satu, si hahni kuning atau si tumpuk. Bingung bingung, dirasain dulu deh bingungnya, dipeluk, ditimang-timang dan akhirnya dilepaskan seperti ajaran mas Nunu hehehe...Ya udah, akhirnya kuputuskan beli si tumpuk yang eksotis. Kenapa? Karena ia tumbuh hanya dari titik puncaknya, jadi terus meninggi bak menara doyong. Sesampai di rumah, kuganti tempatnya dan kutaruh di ruang tengah.
Ih....cantiknya...asli nggak nyesel banget deh. Sayangnya dia hingga kini belum punya nama, udah googling dan jalan-jalan ke pameran Trubus belum kutemukan duanya. Ih....siapakah sebenarnya dirimu sanse tumpuk? Atau dikau hanya lagi nyamar jadi sanse?. Sanse (menara) Pisa?
Sanse nyaru?
Kok daunnya lemes sih? Trus hampir nggak ada yang ngulas nih di majalah atau blog sanse lokal. Mungkin bentuknya kurang eksotis, nggak seperti miss pingui yang lagi ngetrend itu ya?
Well...nggak tahu deh...yang pasti Kiki tetep cinta sama yang satu ini. Sebatang anakannya kini menghias meja kerjaku dengan hydrogel menantang berwarna merah. Ciamik khan!
Sanse mati!
Kalo putih-putih di daun atau akar (bahasa kerennya mealy bugs) manjur diobati dengan sambel cabe mateng. Caranya gampang dan dijamin bikin kenyang. Pertama, beli bakso di depan Al-Fath atau apotik Rini. Kalo nggak cukup sebungkus ya dua bungkus. Minta ekstra sambel cabenya. Setelah kenyang ngabisin si bakso, sisa sambel cabe dicampur air dan rendami/basahi dengan bola kapas daun sanse yang terkena (kutu) putih-putih itu. Dijamin si putih jadi kepedesan dan nggak mau nyarang di sanse tercinta. Kalo si putih mampir di akar, cuci bersih, rendami dengan larutan cabe dan ganti medianya. Angin-anginkan dulu sejenak sebelum ditanam.
Eniwei, kembali ke si mati, barangkali ada yang punya dan mau melego dengan harga persahabatan dan keikhlasan...?
Ditunggu.
Sanse murmer
Kuamati sanse-sanse jenis ini murmer terus. Harganya stabil segituan aja ya mungkin karena bentuknya juga cuman begitu-begitu aja ya...alias standar sanse yang sudah berpuluh tahun jadi penghuni lokal bumi Indonesia ini hehehe...meskipun gitu, si lorentii (foto kiri belakang) ini kondang dimana-mana loh: Amsterdam, Tokyo, Singapura, dan Gerzensee.
Inilah mereka, dalam kondisi terbaiknya di halaman rumahku...
(ki-ka: lorentii dan metallica, tiger stripe, moonshine)
+%26+S.+Trifasciata+Metalica+(F).JPG)


Inilah mereka, dalam kondisi terbaiknya di halaman rumahku...
(ki-ka: lorentii dan metallica, tiger stripe, moonshine)
Sanse narsis
Sanse ini unik.Berdaun keras, rada bergelombang, warnanya eksotik, pinggiran daunnya yang tua kelak berwarna beda serasa direnda. Oh ya, pertumbuhannya rada lambat. Namanya mirip nama-ku. Maka kalo rada narsis setengah napsu tiap belinya, mohon ampun ya Alloh. Soalnya ciptaanmu ini indah banget sih...
Pertama beli di Rawa Belong bareng Om Herlan. Daun empat helai seharga 350k. Waktu itu sekalian beli Kemboja Hawai berbunga lebar merah dan kuning. Si kirki brown itu lalu jadi idola, kusayang-sayang sampe bosen hehehe...setelah aku bosen, barulah dia beranak pinak.
(bosen maksudnya adalah aku berhenti nyobain dia ke berbagai pot yang berlainan lalu kupindah-pindah tempat mejengnya hampir setiap minggu ke tiap sudut ruang yang berbeda)
Sekarang si kirki yang kubeli 3 tahun lalu itu udah jadi 2 pot. Yang satu pot ada 3 helai yang masing-masingnya udah berakar lebat (itu gambarnya, sang induk lebih pudar warnanya). Terakhir nanya di pameran Trubus Mei kemarin ya harganya masih stabil segituan. Yah namanya musiman. Dulu itu mungkin yang punya baru dikit. Sekarang yang lagi mahal kalo nggak salah yang tipe koral biru. Bingung mana yang koral dan mana yang birunya ya....karena daunnya dominan hijau keperakan gitu. Satu daun dihargain 400k.
Alhamdulillah nggak nekat beli. Inget...inget...nafsu harus dikontrol. Beli buat nyamannya hati, bukan buat dipuji. Inilah latihan heartfocus di dunia nyata hehehe...Yang dibeli kemarin ini akhirnya si Kirki berwarna rada pink yang katanya bakal tumbuh ngeroset dan nggak bisa besar seperti jenis kirki lainnya. Mudah-mudahan bener begitu. Kalaupun nggak ya gpp, udah terlanjur narsis eh suka sih sama kirki...
Ada yang mau jual kirki ke Kiki dengan harga menarik?
Ditunggu.
Sanse gratisan
Yep, sanse di kiri ini udah berusia 3 tahunan, udah beranak pinak dan nyebar sampe ke sebrang pulau. Sebagian ada yang udah berbunga. Gemes liatnya dan nggak sabar nunggu gelap buat nyium baunya. Si lurik ini motif daunnya mirip jenis yang panjangan, bedanya yang satu ini berdaun lebih besar dan tumbuhnya melingkar. Butuh wadah besar untuk menampilkan kecantikan seutuhnya. Big is beautiful, right?

Ada lagi versi gratisan yang tumbuhnya lama banget. Entah karena waktu dikasih udah sekarat atau emang Kiki aja yang kurang canggih ngerawatnya. Kalo ngga salah nyontek, dia mirip Ballyi (mini size). Perbanyakan naturalnya lewat anak yang tumbuh dari akar yang mencuat keluar dari potnya. Pernah liat di pameran yang sekaligus beranak enam disekelilingnya. Harga? Ya tahulah, semakin disuka semangkin menggila.
Eniwei, si batang-batangan ini baru sejak kemarin naik pangkat loh. Biasanya dia ngejogrok di pinggir garasi aja. Alhamdulillah Bibi-ku yang baek hati banget kayaknya tersihir oleh pesonanya dan tanpa diminta otomatis memindahkannya ke teras plus pot yang lebih layak hehehe...
Sanse kenangan
Semua sanse ini kubeli dari tempat Koh Tjin Ek. Ratusan ribuan gitu deh harganya. Sekarang semuanya tinggal kenangan. Karena mereka memutuskan untuk mati duluan. Lesson to be learned: jangan pernah beli sesuatu semata karena harganya mahal. Tanya hati dulu apakah emang suka beneran. Kalo ya, berdoa punya duit ekstra supaya bisa beli lagi hehehe...
OK deh, yang pertama si pancaran emas.
Waktu itu beli dua (yang masih ijo dan yang udah kuning). Kabarnya si emas ini adalah mutasi dari lilian true versi roset. Dan dia nggak bisa diperbanyak dari daun atau teknik motong tengah, karena nanti akan tumbuh jadi ijo doang. Kemarin pas pameran Trubus Mei 2008 ini Kiki mutusin beli lagi (foto yang kanan ya...). Harganya masih tetep bikin geregetan. Cuman sekitar 5 daun dihargain 200k. Timbang-timbang suka banget ya udah dibeli juga hikhikhik....(oh ya, di toko sebelahnya ada yang udah 20puluhan daun laku 600k)..JPG)

Yang kedua si melingker.
Kabarnya ada versi twisted sister dan twister tsunami. Belon tahu bedanya apa, cuma doyan banget liat kriwilnya. Mirip rambut Mbak Balqis putri tercinta-ku!. Dulu belinya mahal banget euy dan sekarang harganya terjungkal-jungkal. Nggak tahu sih apa mereka dari jenis yang sama. Seingetku yang beli dari Koh Tjin Ek meliuknya lebih mengarah ke atas ketimbang yang kemarin ini kubeli seharga 150k (foto kanan).

Yang terakhir si masa depan.
Kalo nggak salah ngertiin, di milis sanse pernah dibahas panjang lebar sih tentang nama dlsbnya, yang terus jadi panas gimana gitu sampe malez bacanya. OK, back to the futura. Si kompak ini tumbuh semodel sarang burung cuman daunnya lebar dan kompak. Pas kalo ditaruh di pojokan ruang keluarga. Kalo kurang nutrisi, dia tumbuh jadi panjang-panjang. Futura versi lama-ku entah dimana sekarang. Berbaur dengan lorentii mini dan sanse lain yang udah aku potong-potong untuk percobaan (sadis!). Eniwei, kemarin dulu waktu jalan-jalan di tempat Pak Gendut maka dapet lagi sepot dengan harga lebih murah berhadiah Heng-Heng pula (foto yang kanan ya...). Thanks Pak
Gendut!.
OK deh, yang pertama si pancaran emas.
Waktu itu beli dua (yang masih ijo dan yang udah kuning). Kabarnya si emas ini adalah mutasi dari lilian true versi roset. Dan dia nggak bisa diperbanyak dari daun atau teknik motong tengah, karena nanti akan tumbuh jadi ijo doang. Kemarin pas pameran Trubus Mei 2008 ini Kiki mutusin beli lagi (foto yang kanan ya...). Harganya masih tetep bikin geregetan. Cuman sekitar 5 daun dihargain 200k. Timbang-timbang suka banget ya udah dibeli juga hikhikhik....(oh ya, di toko sebelahnya ada yang udah 20puluhan daun laku 600k).

Yang kedua si melingker.
Kabarnya ada versi twisted sister dan twister tsunami. Belon tahu bedanya apa, cuma doyan banget liat kriwilnya. Mirip rambut Mbak Balqis putri tercinta-ku!. Dulu belinya mahal banget euy dan sekarang harganya terjungkal-jungkal. Nggak tahu sih apa mereka dari jenis yang sama. Seingetku yang beli dari Koh Tjin Ek meliuknya lebih mengarah ke atas ketimbang yang kemarin ini kubeli seharga 150k (foto kanan).

Yang terakhir si masa depan.
Kalo nggak salah ngertiin, di milis sanse pernah dibahas panjang lebar sih tentang nama dlsbnya, yang terus jadi panas gimana gitu sampe malez bacanya. OK, back to the futura. Si kompak ini tumbuh semodel sarang burung cuman daunnya lebar dan kompak. Pas kalo ditaruh di pojokan ruang keluarga. Kalo kurang nutrisi, dia tumbuh jadi panjang-panjang. Futura versi lama-ku entah dimana sekarang. Berbaur dengan lorentii mini dan sanse lain yang udah aku potong-potong untuk percobaan (sadis!). Eniwei, kemarin dulu waktu jalan-jalan di tempat Pak Gendut maka dapet lagi sepot dengan harga lebih murah berhadiah Heng-Heng pula (foto yang kanan ya...). Thanks Pak
Sanse nge-roset
Ini variasi yang Kiki punya. Murah meriah dan dijamin punya kemampuan isep debu dan bau-bauan yang nggak kalah dengan versi tingginya. Bentuk boleh mini, khasiat tetap maksi (duileee...korban iklan apa yaaa?).
Kalo sabar, perbanyakannya relatif gambang lewat anakan. Tapi kalo butuh cepetan (kejar setoran hehehe...) bisa potong tengahnya buat yang udah lumayan tinggi (liat gambar kiri atas). Motongnya pake pisau yang tajem dan steril ya dan selalu pake Bismillah.
Bagian kepotong atas dioles rooton untuk perangsang akar, angin-anginin bentar lalu tanem deh dengan media pasir malang. Bagian bawahnya (yang masih nancep di media) olesin dengan fungisida (pernah nyoba pake Betadine...khan luka juga...) biar nggak busuk. Taro ditempat kering jangan keujanan, ntar lewat semingguan baru disiram pake pupuk organik. Sebulanan ntar tumbuh deh bintil-bintil kecil anakan di tempat potongan yang nancep di media. Ntar bentuknya jadi lucu deh...kemrumpul gitu bikin gemes. Tapi nurut Kiki rada nggak rapi yaah bentuknya. Nggak serapi kalao lewat anakan tunas biasa.
Sori, di gambar kiri bawah ini ada yang bukan model roset amat, karena dia bisa jadi panjang nggak beraturan (hayo yang mana?...tebak...). Kiki nggak tahu nama kerennya, yang jelas harganya murmer banget, gampang tumbuh dimana-mana, dan nggak perlu dirawat berlebihan. Khas sanse...
Sanse lama
Barisan selanjutnya masih tentang sanse-sanse lama, sang penghuni rumah yang setia. Wong Kiki aja musti keluar pagi pulang gelap, sementara dia mah njeketek puss di teras dengan cantiknya (ini nih penyakitnya, sirik kok sama taneman hehehe...)
Yang sebelah kiri bernama silindrika. Sesuai namanya, dia berbentuk bulet-bulet dan tumbuh mbleber kayak kipas gitu. Banyak banget variannya dan kalo udah gede bisa menuh-menuhin pot banget. Si silin ini sempet berbunga, wangi kalo malem. Sekarang anaknya udah banyak banget dan malah jadi turun takhta. Kalo dulu Kiki taruh di ruang tamu, sekarang dia dengan manisnya menjaga rumah (dipajang di luar pager), samping kolam belakang dan samping garasi. Kayaknya sih dia emang nggak terlalu doyan di dalem rumah, batangnya jadi kurus dan keriput.
Yang di kanan ada dua sanse. Yang tengah me-roset kayak sarang burung. Jaman dulu di harganya cuma Rp2.500/taneman. Bagus buat penyerasi rangkaian sanse. Trus yang sebelah kiri (masih di foto yang sama) belum tahu namanya apa. Daunnya dominan kuning rada lemes. Pertumbuhannya lambat banget. Kalo ini belinya pake ngerayu karena demen liat gemulainya (buat si abang penjual, nun jauh di pinggiran jalan Rawa Belong, ikhlasin ya...). Sekarang dia anaknya udah lumayan banyak, sayang kalo musim panas suka ada bercaknya gitu, so dia cuma sekali-kali aja dapet kehormatan menghias ruang tengah.

Yang sebelah kiri bernama silindrika. Sesuai namanya, dia berbentuk bulet-bulet dan tumbuh mbleber kayak kipas gitu. Banyak banget variannya dan kalo udah gede bisa menuh-menuhin pot banget. Si silin ini sempet berbunga, wangi kalo malem. Sekarang anaknya udah banyak banget dan malah jadi turun takhta. Kalo dulu Kiki taruh di ruang tamu, sekarang dia dengan manisnya menjaga rumah (dipajang di luar pager), samping kolam belakang dan samping garasi. Kayaknya sih dia emang nggak terlalu doyan di dalem rumah, batangnya jadi kurus dan keriput.
Yang di kanan ada dua sanse. Yang tengah me-roset kayak sarang burung. Jaman dulu di harganya cuma Rp2.500/taneman. Bagus buat penyerasi rangkaian sanse. Trus yang sebelah kiri (masih di foto yang sama) belum tahu namanya apa. Daunnya dominan kuning rada lemes. Pertumbuhannya lambat banget. Kalo ini belinya pake ngerayu karena demen liat gemulainya (buat si abang penjual, nun jauh di pinggiran jalan Rawa Belong, ikhlasin ya...). Sekarang dia anaknya udah lumayan banyak, sayang kalo musim panas suka ada bercaknya gitu, so dia cuma sekali-kali aja dapet kehormatan menghias ruang tengah.
Sanse lawas
Ini sanse-sanse yang setia nangkring di teras rumahku. Beberapa sempet mati dan hidup lagi. Amazing khan?. That's the power of money hehehe...alias beli lagi sebagai gantinya (maklum deh, terlanjur cinta soalnya).
Cuma ya itu, beli dulu dan beli sekarang harganya bikin berdenyut (sedikit sih...khan tadi di awal udah janji kalo ini sekedar hobi yang nggak pake nafsu hehehe...namanya juga usaha, kalo terlanjur pake nafsu dikit ya diikhlasin deh!).
Beberapa sanse yang survive, contohnya si Giant (centong) ini, sekarang udah bercucu dan berkembang jadi centong kecil, centong panjang (kayak golok), dan centong mbulet (giant yang memutuskan untuk diet atau tidak lagi jadi giant hehehe...).
Yang ditengah bernama sensasi bantel. Dulu belinya sekitar Rp20k di pameran Trubus tahun 2005-an, kemarin Mei 2008 ini beli lagi di warung bunga emperan RS Persahabatan, dan harga masih segituan (belinya nggak maksa kok...tapi sebelumnya divisualisasi dulu hehehe).
Yang paling kanan bertajuk panah ijo. Hampir nggak ada hubungannya sama kolor ijo.
Pertumbuhannya cepet, mudah beranak dan gampang kena penyakit putih-putih itu. Kalo rajin diganti media dan dipupuk malah busuk, ya sudah akhirnya kusingkirkan saja di pojokan selama kurang lebih setahun. Sekarang saat kutengok lagi dia udah lebih sehat dan beranak banyak. Berasa kali dicuekin, atau malu beranak di tempat terbuka?...OK deh, sekarang kamu boleh majang lagi di teras depan hehehe...


Cuma ya itu, beli dulu dan beli sekarang harganya bikin berdenyut (sedikit sih...khan tadi di awal udah janji kalo ini sekedar hobi yang nggak pake nafsu hehehe...namanya juga usaha, kalo terlanjur pake nafsu dikit ya diikhlasin deh!).
Beberapa sanse yang survive, contohnya si Giant (centong) ini, sekarang udah bercucu dan berkembang jadi centong kecil, centong panjang (kayak golok), dan centong mbulet (giant yang memutuskan untuk diet atau tidak lagi jadi giant hehehe...).
Yang ditengah bernama sensasi bantel. Dulu belinya sekitar Rp20k di pameran Trubus tahun 2005-an, kemarin Mei 2008 ini beli lagi di warung bunga emperan RS Persahabatan, dan harga masih segituan (belinya nggak maksa kok...tapi sebelumnya divisualisasi dulu hehehe).
Yang paling kanan bertajuk panah ijo. Hampir nggak ada hubungannya sama kolor ijo.
Pertumbuhannya cepet, mudah beranak dan gampang kena penyakit putih-putih itu. Kalo rajin diganti media dan dipupuk malah busuk, ya sudah akhirnya kusingkirkan saja di pojokan selama kurang lebih setahun. Sekarang saat kutengok lagi dia udah lebih sehat dan beranak banyak. Berasa kali dicuekin, atau malu beranak di tempat terbuka?...OK deh, sekarang kamu boleh majang lagi di teras depan hehehe...
Sanse booming lagi?
Sansevieria kabarnya lagi di puncak takhta. Mosok sih?Well...soal harga sih kayaknya belum pernah denger ada yang mau tukeran sanse dengan mobil atau belon nyium info tentang nursery yang koleksi sanse-nya digondol pencuri, ala jaman keemasannya Anthurium. So, mungkin ukuran "takhta" nya bukan yang seperti itu kali ya.
Kiki kenal sanse sekitar 3 tahunan yang lalu.
Pertama kenal dengan model standar pedang-pedangan yang satu pohon 5 helai daun paling cuma lima rebonan di abang penjual bunga pinggir jalan. Langsung jatuh cinta karena ternyata sanse ampuh dengan kemampuannya menyerap asap dan bau. Itu penelitian NASA-loh! So, setelah menyerah berkebun sayur hidroponik, maka beralihlah kecintaan dari tanaman sayur ke tanaman hias. Di rumah kalo diurut-urut (atau dipijit-pijit), jumlah tanaman dari yang terbanyak adalah sanse, taneman air, kemboja dan aglonema (halah....sebenernya sekarang tinggal cuma punya 1 heng heng doang, itupun setelah sukses mematikan 2 pride of sumatra dan 1 lady valentine hehehe...)
Dulu waktu lagi gemesnya sama sanse, sempet main ke kebun Koh Tjin Ek di Bogor. Nama anak beliau ini, Tiara, digunakan sebagai salah satu nama Aglonema terkenal ciptaan sang pemulia kondang: Pak Greg Hambali. Koleksi pertama dan termahal yang Kiki beli waktu itu dari Koh Tjin Ek adalah twisted sister dan gold fame. Dengan bonus gratis beberapa jenis sanse yang nggak diketahui namanya hehehe....
Ya, apalah arti sebuah nama?
Yang penting indah di mata dan menyejukkan hati kala dipandang.
Menyejukkan hati karena nggak sampe bikin kantong melompong dan nyesel berlebihan waktu sang sanse memilih untuk mati. Alias...belinya engga pake nafsu (iyalah...belinya pasti pake duit hehehe...)
Yap, so ampuni Kiki apabila banyak sanse disini yang belum ada namanya atau ngasih namanya ngawur. Siapa tahu ada yang berbaik hati membantu ngasih tahu. Semoga bisa jadi jalan untuk silaturahmi tuker-tukeran atau beli-belian atau jual-jualan, apapun deh yang penting ada hubungannya dengan sanse!
Langganan:
Postingan (Atom)