Tapi, kalo India boleh punya sanse lokal yang bernama Bandipur, masak Indonesia nggak boleh punya hihihihi....ya terserah deh, soal nama internasional serahkan aja pada ahlinya. Hanya nama dagang lokal ya Javanica. Cirinya mudah tumbuh dimana aja, cepet pula. Warna daun relatif muda kalo terpapar panas terus terusan. Seperti jenis sanse yang lain, stek daun bakal bikin dia jadi lebih roset dan dengan ukuran daun lebih pendek dari induknya. Kata saya sih bagusan hasil stek daunnya ketimbang indukan yang semrawut awut-awutan seperti gambar kiri atas. Versi mini-nya juga bagus apalagi kalo dipotin variasi dgn jenis mini yang lain juga (liat nih potonya, tengah, belakang si garis-garis)
Kamis, 21 Agustus 2008
Sanse-Javanica
Sanse-Lavranos
Selasa, 19 Agustus 2008
Sanse-upacara
Sanse-Hallii Pink Bat
Baru berumur satu hari. Diadopsi dari Flona 2008 Lapangan Banteng. Tepatnya dari tempatnya Pak Aris Sekar Kampoeng. Beliau juga punya Eilensis, buka harga 25000k. Way too expensive for me...
This pink bat already cost me a fortune. And will give me even more fortune. Cross my fingers!
Sanse-nitida
Sanse-beranak
Sanse-holiday
Senin 18 Agustus semua kusemprot bactocyn supaya gak dihinggapi jamur dan bakteri. Satu batang coppertone kucacah jadi tiga untuk percobaan. Juga sebatang jenis cylincrica yang gak tau namanya. Semoga berhasil. Sorenya ngambil my precious halli 'pink bat' dari Sekar Kampoeng. Semoga beranak terus. Amin.
Sanse -nyambung
Sanse-kirkii
Ada versi pulchra (atau puchra ya?). Lihat di http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/07/sanse-gembrong.html, ada versi coppertone (anakan berbatang tunggal, stek daun meroset) http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/05/sanse-narsis.html, ada juga versi yang masih jarang di Indo yaitu 'silver blue' http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/08/sanse-kirkii-silver-blue.html, lalu juga ada var kirkii atau nama Indo-nya 'coral blue' http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/06/sanse-koral-biru.html yang barusan lagi beranak lucu banget. Sebulan lalu di pameran Taman Mini dapet satu lagi yang udah berusia lebih dari 4 tahun. Masih varian kirkii coppertone hanya dari stek daun. anaknya ada 3 diseputaran induk. Warna lebih muda dari yang sudah ada, kemungkinan karena faktor media dan cahaya. Kalau rajin dijemur setiap hari s/d pukul 10.00 pagi maka daunnya akan semakin cerah ibarat daun mati. Secara bentuk, this one is my favorite.
Sabtu, 16 Agustus 2008
Sanse-humiflora
Sanse-hallii
Hallii yang milik kami ini adalah versi generik. Hijau biasa aja gitu, plain. Jujur beli karena sekedar pingin punya. Harga termurah di kelasnya. Dapet dari ecoliving seperti juga si kirkii silver blue. Rimpangnya orange dan kayaknya perlu ditanam rada dalam. Saat ini kondisinya belum begitu prima, rada kisut, belum tahu kenapa. Masih nunggu ahlinya buat ngasih tips and tricks...
Sanse-horwood
FKH adalah singkatan nama Sir Francis K. Horwood yang pada jamannya merupakan si kolektor dari habitat aslinya, Kenya. Dituliskan bahwa ia mudah ditumbuhkan. Hanya pengalaman pribadi bilang ia lambat tumbuh. Khas sanse daun tebal. Pengalaman seorang kawan menunjukkan bahwa ia juga rentan terkena aspergillus niger. Biasanya hanya jenis daun tipis (trifasciata) yang rentan. So pengalaman yang bagus untuk tidak membedakan jumlah dan periode aplikasi fungisida.
Milik kami ini berasal dari stek daun. Versi mature indah sekali mirip topi clown yang mengarah ke berbagai penjuru angin itu (a.k.a lanset, liat deh di buku Trubus). Beli ini sekitar Juni 2008 dari Om Boen, yang waktu itu memesona dengan malawi bat variegata-nya. Dalam dua bulan akuisisi, warnanya semakin menggelap dan pucuk daun tengah perlahan meninggi. Perlahan benar. Kabarnya ia rakus hara. Maka dah 2 x kubenamkan NPK 14:14:14 sesendok teh dalam medianya. Pesan Om Boen adalah tidak perlu re-potting sampai 4 tahun ke depan. Hah...sedemikian leletkah ia tumbuh. We'll see...
Sanse-kirkii silver blue
Kabar dari Flona 2008, milik suatu nursery asal Yogya ludes dipinang pembeli Filipin. Yah memang kabarnya stok disana habis, dah dibeli para kolektor Indo yang kemudian tahan barang nggak mau ngelepas dulu. Ya secara kirkii yang rada lelet numbuh dan belum sepenuhnya mampu diproduksi massal ala kultur jaringan maka trend harga diperkirakan masih headed north. So, this one is my beautiful-precious investment.
Sanse-perrotii
Sanse milik kami ini dilabeli s. perrotii oleh penjualnya. So, kalau ada kesalahan pemberian nama please feel free to sue him, not me. Saya suka dengan warnanya yang agak kebiruan dan daunnya yang keras. Cantik sekaligus maskulin. Didapat sekitar Juli 2008. Belum banyak yang punya atau jual, so I guess this worth the price.
Selasa, 12 Agustus 2008
Sanse-Q&A
Kumpulan Q&A (Q dari saya, A dari para ahlinya di milis sansevieria_id)
1. Mungkin nggak sanse stek daun (warna ijo) menghasilkan anakan variegata atau berwarna kuning?
IS: Stek daun hijau atau variegata bisa menghasilkan anak yg variegata tapi kemungkinannya kecil sekali, satu berbanding ratusan. Kalau stek daun normal menghasilkan anakan yg albino, jangan dipisah dulu dr induknya, tunggu sampai ada keluar warna hijau dikit, jadi kalau dipisah, anakan bisa masak makanan sendiri.
FA: Mungkin, pernah percobaan lorentii saya cacah ukuran 10 cm sampai buanyak...percobaan saya taruh tempat yg "Extreme". Banyak yg mengalami mutasi, tapi kebanyakan mutasi kondisional dan bentuk.
2. Bagaimana sih pengaturan waktu antara pemberian vitamin/pupuk dan fungi/bakterisida?
IS: Kalau saya tdk ada aturannya, kalau dirasa perlu semprot, semprot saja... ;))
FA: Pupuk ya... tiap hari dipupuk tu mbak..gonta- ganti, cuampur-cuampur.
3. Kalo sudah dikasih pupuk slow release apa masih perlu disirami BI, auksin, dkk?
IS: Saya aplikasikan dua-duanya ;))
FA: Ga masalah...Liat sansi A butuh pupuk, kasih pupuk, sansi B butuh air doang ya kasih air...sansi C butuh dibuang ya dibuang biar ga menular...he. ..he. Pokoknya kebutuhannya apa penuhi aja. Enak to....
4. Andai nih, udah disemprotin fungi/bakterisida dua minggu yl tapi ternyata sekarang 1-2 pot terkena serangan, apa semua perlu disemprot atau hanya yang sakit thok?
IS: Semprot semuanya untuk pencegahan ;))
FA: Fungi dan bakterisida ya...itu kewajiban mutlak!
5. Kalo untuk mempercepat penumbuhan akar dari setek daun baiknya pake yang merek apa ya?
IS: Saya baru 2x, tdk berhasil, ada yg tidak pakai apa2, ada yg pakai hormone, yg banyak pakai, Roo*-*p, pasti tau ya... ;))
FA: Merk yg dipakai...SMO (Sekam Mentah Open), plus campuran media poros. Coba saja...liat hasilnya. Bagi...bagi. ..
PH: Stek daun ya, hanya pernah nyoba, ada yang gagal ada yang berhasil.Media menurut saya paling bagus untuk stek daun sekam mentah + pupuk kandang + tanah merah. Yang sudah berhasil fischerii, francisii, masoniana, trifasciata (lilian true, pagoda, hahnii), tom grumbley, akibat terpaksa karena patah atau daun rusak. Udah sebagian bertunas dan ada yang baru stolon, atau akar.Pengalaman saya yang saya kasih perangsang akar bentuk serbuk aplikasi langsung pada mati/busuk. yang dikasih bentuk perangsang akar bentuk cair bisa tumbuh. yang tidah dikasih perangsang akarpun tetap tumbuh. Hasil cenderung lebih kecil, melebar dan untuk trifasciata hasilnya kadang beda dengan induknya.
FM: Saya kurang berpengalaman dalam bidang stek daun. Selama ini stek daun yang saya lakukan masih banyak gagalnya, terutama yang cacahannya banyak2. Akan tetapi saya banyak sekali berhasil setek daun yang masih utuh, yang pangkalnya masih tersisa, dan itu yang ditancapkan tidak dengan menancapkan dalam2, tapi ditekan saja sedikit seperti orang menyetek Plumeria yang hanya ditegakkan saja ditanah, sampai callus dan akar dan bahkan tunasnya keluar. Kemudian baru saya tanam, Setelah tunas tumbuh, saya potong lagi daunnya untuk distek lagi dengan proses yang sama. Saya mengerti bahwa ini sekalipun tingkat keberhasilan cukup tinggi, tetapi terlalu lambat untuk produksi massal. Saya cenderung mernyarankan untuk memakai daun dengan potongan2 mengikuti metoda Chahinian dengan merendam dalam bleaching solution,lalu pakai rooting hormone. Kemudian pakai pasir malang untuk menumbuhkannya. Mungkin setekan dapat dilindungi dengan paranet. Memang kita masih perlu belajar banyak dalam hal ini.
Note: IS (Indra Susandi, Jakarta, moderator sansevieria_id@yahoogroups), FA (Fery Ayub, Sukoharjo, kolektor dan pebisnis sansevieria), FM (Fadjar Marta, pemulia, hobiis, dan kolektor tanaman hias). Tidak semua merupakan thread dengan topik yang sama, disatukan semata sebagai dokumentasi dan sarana belajar.
1. Mungkin nggak sanse stek daun (warna ijo) menghasilkan anakan variegata atau berwarna kuning?
IS: Stek daun hijau atau variegata bisa menghasilkan anak yg variegata tapi kemungkinannya kecil sekali, satu berbanding ratusan. Kalau stek daun normal menghasilkan anakan yg albino, jangan dipisah dulu dr induknya, tunggu sampai ada keluar warna hijau dikit, jadi kalau dipisah, anakan bisa masak makanan sendiri.
FA: Mungkin, pernah percobaan lorentii saya cacah ukuran 10 cm sampai buanyak...percobaan saya taruh tempat yg "Extreme". Banyak yg mengalami mutasi, tapi kebanyakan mutasi kondisional dan bentuk.
2. Bagaimana sih pengaturan waktu antara pemberian vitamin/pupuk dan fungi/bakterisida?
IS: Kalau saya tdk ada aturannya, kalau dirasa perlu semprot, semprot saja... ;))
FA: Pupuk ya... tiap hari dipupuk tu mbak..gonta- ganti, cuampur-cuampur.
3. Kalo sudah dikasih pupuk slow release apa masih perlu disirami BI, auksin, dkk?
IS: Saya aplikasikan dua-duanya ;))
FA: Ga masalah...Liat sansi A butuh pupuk, kasih pupuk, sansi B butuh air doang ya kasih air...sansi C butuh dibuang ya dibuang biar ga menular...he. ..he. Pokoknya kebutuhannya apa penuhi aja. Enak to....
4. Andai nih, udah disemprotin fungi/bakterisida dua minggu yl tapi ternyata sekarang 1-2 pot terkena serangan, apa semua perlu disemprot atau hanya yang sakit thok?
IS: Semprot semuanya untuk pencegahan ;))
FA: Fungi dan bakterisida ya...itu kewajiban mutlak!
5. Kalo untuk mempercepat penumbuhan akar dari setek daun baiknya pake yang merek apa ya?
IS: Saya baru 2x, tdk berhasil, ada yg tidak pakai apa2, ada yg pakai hormone, yg banyak pakai, Roo*-*p, pasti tau ya... ;))
FA: Merk yg dipakai...SMO (Sekam Mentah Open), plus campuran media poros. Coba saja...liat hasilnya. Bagi...bagi. ..
PH: Stek daun ya, hanya pernah nyoba, ada yang gagal ada yang berhasil.Media menurut saya paling bagus untuk stek daun sekam mentah + pupuk kandang + tanah merah. Yang sudah berhasil fischerii, francisii, masoniana, trifasciata (lilian true, pagoda, hahnii), tom grumbley, akibat terpaksa karena patah atau daun rusak. Udah sebagian bertunas dan ada yang baru stolon, atau akar.Pengalaman saya yang saya kasih perangsang akar bentuk serbuk aplikasi langsung pada mati/busuk. yang dikasih bentuk perangsang akar bentuk cair bisa tumbuh. yang tidah dikasih perangsang akarpun tetap tumbuh. Hasil cenderung lebih kecil, melebar dan untuk trifasciata hasilnya kadang beda dengan induknya.
FM: Saya kurang berpengalaman dalam bidang stek daun. Selama ini stek daun yang saya lakukan masih banyak gagalnya, terutama yang cacahannya banyak2. Akan tetapi saya banyak sekali berhasil setek daun yang masih utuh, yang pangkalnya masih tersisa, dan itu yang ditancapkan tidak dengan menancapkan dalam2, tapi ditekan saja sedikit seperti orang menyetek Plumeria yang hanya ditegakkan saja ditanah, sampai callus dan akar dan bahkan tunasnya keluar. Kemudian baru saya tanam, Setelah tunas tumbuh, saya potong lagi daunnya untuk distek lagi dengan proses yang sama. Saya mengerti bahwa ini sekalipun tingkat keberhasilan cukup tinggi, tetapi terlalu lambat untuk produksi massal. Saya cenderung mernyarankan untuk memakai daun dengan potongan2 mengikuti metoda Chahinian dengan merendam dalam bleaching solution,lalu pakai rooting hormone. Kemudian pakai pasir malang untuk menumbuhkannya. Mungkin setekan dapat dilindungi dengan paranet. Memang kita masih perlu belajar banyak dalam hal ini.
Note: IS (Indra Susandi, Jakarta, moderator sansevieria_id@yahoogroups), FA (Fery Ayub, Sukoharjo, kolektor dan pebisnis sansevieria), FM (Fadjar Marta, pemulia, hobiis, dan kolektor tanaman hias). Tidak semua merupakan thread dengan topik yang sama, disatukan semata sebagai dokumentasi dan sarana belajar.
Rabu, 02 Juli 2008
Sanse-gembrong
Tampilan dasar daunnya gelap dengan bercak-bercak nyata yang bentuknya bervariasi. Ada yang rada putih, krem, ada juga kekuningan. Panjang daunnya lumayan bisa sampai 1 meteran. ada yang berdiri tegak dan ada mbleber ke samping tergantung maunya dia hehehe. Aslinya aku punya 2 batangan doang. Satu batang kecil mati kena bakteri. Yang satu lagi masih utuh aman terkendali. Hanya lalu kesian ngga ada temennya, maka lalu kubelilah yang satu ini dari Mas Fery.
Bibi yang ngeliat langsung komentar "duile ibu, ini sansevieria bukan? Gembrong amat bu?"
Maka sejak itu nama sayangnya adalah si gembrong alias gondrong. Waktu dipindah, banyak akarnya yang tercerabut. Insya Alloh nggak apa-apa...maapin yaaa...
Mudah-mudahan si gembrong bisa enjoy dengan rumah barunya.
Sanse-pameran
Sabtu lalu udah kesana dan hari ini diniatin dateng lagi pas istirahat atau pulang kantor. Diantara rumpun anthurium, aglonema atau puring, pastinya ada aja yang menyelipkan beberapa pot sanse. Ada yang serius, ada yang seadanya doang. Seadanya alias kalo dikasih pun nggak mau mungut (ngesok amat yaaa, emang ada gitu yang mau ngasih hehehe). Sanse-nya ngga mulus, jerawatan bekas penyakit dan nanemnya nggak niat. Nyebelinnya yang model begini ngasih harga juga ngawur aja. Bener-bener musti jaga hati ngadepin penjaga stan yang beginian.
Buat yang serius, ada salah satu peserta (lupa namanya) yang spesialis di bonsai tapi juga me-minikan berbagai taneman lain termasuk sanse. Sebagian besar jualannya cantik-cantik, ditata dengan keindahan, sehat, dan yang paling penting harganya reasonable (liat foto di bagian bawah posting http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/07/sunatan.html). Nanti deh kalo udah ketemu lagi aku cantumin nama nursery-nya.
Nah buat yang 100% serius, ada Bloomfield dan Deesent Art di seberangnya yang khusus jualan sanse doang. Tentunya yang dipajang di tempat ini adalah sanse pilihan. Harga juga pilihan. Kalo cuma bawa uang ratusan ribu nggak dapet apa-apa. Semua dibandrol dalam juta tanpa ekspresi. Ini cuplikan peristiwanya:
K (Kiki) : "Maap Pak, liat dan nanya dulu ya. Ini namanya apa Pak?"
P (P'jual) : "ckahfahofhahfiogfiowfwug" (ngomong nggak jelas gitu kayak kumur-kumur, tampilan Kiki kurang prospektif kali ya?)
K : (dalem hati: gpp, apapun namanya ia cantik sekali) "Harganya berapa Pak?"
P : "tiga setengah"
K : "Ooooo, kalo yang ini?" (sambil nunjuk jenis yang sama cuma lebih besar).
P : "tujuh"
K : (belagak ngerti padahal nggak) "tujuh itu apa Pak, ratus atau juta?"
P : "juta"
K : (sambil terbelalak dan ngetawain diri sendiri) "Hehehe, maap ya Pak, tadinya saya kira ribu. Wah kalo gitu yang ini berapa ya?" (sambil ngeloyor ngejauhin tuh taneman...belakangan aku baru tahu bahwa sanse itu dinamai "black masoniana hybrid")
P : "Ini 2,5 lalu itu 1,5 dst dst dst" (sambil nunjuk ke berbagai arah).
K : (sambil cengingiran) "Oke deh Pak, makasih ya. Salut saya dengan harganya, kayaknya belum mampu beli nih Pak?"
P : (sambil nyengir juga) "Diliat-liat aja bu"
(kayaknya dalem hati dia juga bilang: "tuh khan bener nggak prospektif hehehe...")
Ya udah, dari situ akhirnya aku beringsut pelan ke stan sebrangnya yang jualan pot keramik. Beli beberapa dan nengok ke stan sebelah yang spesialis jualan sanse juga. Harga yang beterbangan ya nggak beda dengan sebelumnya, hanya lebih bersahabat karena disampaikan berikut tips and trick cara merawat dlsb (sebenernya itu juga bukan diarahkan ke Kiki, tetapi ke seorang tauke berbatik yang sepintas nguping pernah beli salah satu sanse koleksinya di mereka hehehe...).
Makanya....lain kali ke pameran musti tampil rada gayaan dikit...with style (padahal belum tentu beli juga hehehe...)
Yuk ke pameran!
Selasa, 01 Juli 2008
Sanse-BB
Pastinya aku belum punya yang model begini, maka sekarang disimpan dulu di balik jendela foyer biar kena angin dan nggak terlalu kepanasan amat. Maklum habis perjalanan lumayan jauh. Liat deh, daun barunya sampe miring begitu...kesian hik hik.
Soal ngerawat, ya itu tadi, belum punya pengalaman. Kalo dia sekelas dengan lorentii biasa ya kayaknya sih seneng panas-panasan. Tapi nanti dulu deh...sekarang masih masa pelepasan stress dulu. Biarkan ia santai dulu menikmati hawa panasnya Jakarta dari balik kaca.
sanse-bagamo
Di berbagai forum maya lokal, dijual dengan nama yang variatif antara bagamoyensis dan gracilis. So, what's in a name?
Banyak sih...harga misalnya hehehe...
Eniwei, selama ini Kiki berusaha menjaga kecintaan sanse pada bentuk indah rupanya, maka nama menjadi tidak terlalu penting saat membeli sepanjang harga tidak terlalu mencekik leher. Nama, baru jadi penting saat dihadapkan pada urusan rawat-merawat. Bahwa misalnya sanse daun tipis dengan dominansi kuning seperti golden banner ternyata punya cara perawatan yang rada genit http://bj-sanse.blogspot.com/2008/06/golden-benner-cantik-lemah-lembut-tapi.html. Katanya sanse beginian nggak boleh kena sinar matahari lebih dari jam 10.00 (iya lah...khan belum pake sun block gitu loch!) dan taunya gak boleh terlalu terekpose dengan pupuk berkadar N tinggi.
Nah...hanya saja Kiki belum tahu apakah kemudian semua sanse jenis daun tipis dominan kuning yang ngeroset seperti itu musti dirawat dengan cara yang sama. Kalo iya, maka hipotesanya sekedar deskripsi (tanpa nama) tetap valid dalam konteks rawat-merawat...
Hanya lagi, gimana cara ngebuktiin hipotesanya, ya?
Does anyone have a clue?
sanse-splendens
Kabarnya ia bernama "splendens". Kalau dilihat di bukunya Ibu Hermine Stover (yang sering dicela-cela Om Steve di milis sanse) penjelasan splendens adalah begini: shiny, dark green blade shaped leaves narrowing into channeled petioles, red leaf margins and dried white edges.
Ehhhmmmm...opo yo iku maksute hehehe...pastinya punya Kiki yang cuma satu-satunya ini emang berpinggir putih karena keseleo waktu dikirim dan lalu mengering deh salah satu ujung daun anakannya hik hik hik.
Soal harga masih masuk kategori murmer-lah. Nggak perlu minta BLT dari Masku untuk menebusnya hehehe...
Sanse-batang kcil
Yang di foto ini jenis yang cebolnya, dapet dari Sukoharjo dengan harga persahabatan.
Sanse-miss pinggu
Daunnya keras, tebal, nge-roset dan pertumbuhannya lambat. Ditemukan dan dinamai oleh Peter Bally pada 1964. Dari hasil nguping, katanya ada dua jenis pinguiculata yang beredar di Indo. Pertama yang philipsiae, kedua yang longifolia (bener gini nulisnya ya?, kalo salah mohon maaf, mohon diluruskan). Jenis pertama lebih montok, buntek. Sementara yang jenis kedua bisa panjang-panjang gitu kayak cakar nenek sihir. Keduanya punya duri tajam di tiap ujung daunnya. So hati-hati, baiknya tidak diletakkan di area yang terjangkau tangan-tangan mungil. Untuk jenis pertama seukuran gambar ini (kira-kira lebih besar dikit dari koin 500 yang tembaga, harganya per Mei-Juni ini di sekitar 300k) ada sih yang lebih mahal, kalo prinsipnya beli apa aja asal mahal hehehe...
Waktu bayi begini, bisa rada saru bentuknya antara miss pinggu dengan mr lav 1970. Nanti setelah pada toddlers baru deh keliatan bedanya. Sabarlah menunggu 3-5 tahun lagi hehehe...
Sunatan
Maaf, posting ini nggak ada kaitannya dengan sanse. Kalo dihubung-hubungin cuma karena Maknya yang mau disunat doyan miara sanse.
Sabtu 28 Juni adalah hari bersejarah buat kami. Adek yang lahir 11 Oktober 2008 (ato sekitar 8 taon kurang 4 bulan per hari tsb) resmi disunat pada pukul 11 siang lewat dikit. Sunatan dilakukan di rumah sunatan (www.rumahsunatan.com) cabang Jl. Pondasi, Kampung Ambon karena disitulah yang terdekat dari rumah kami.
Di hari sebelum sunat, Kiki izin sehari nemenin adek milih mainan permintaan (aka sogokan hehehe..). Terpilihlah salah satu seri Lego Exoforce, majalah XY Kids, dan kaos Ben10 bergambar wild mutt (gini ya nulisnya?).
So, sesiang dan semalam sebelum sunatan, si adek sibuk merakit robotnya, untuk kemudian akan dipegang selama sunat (“jadi kalo aku kesakitan, bisa ngeliatin robotnya, trus jadi nggak sakit lagi deh....”). Merakitnya ditemani keponakan yang akan dibarengin sunat juga.
Pas S-day sebelum dimulainya prosesi, inilah mereka lagi pada nyengir kesenengan. Ruang tunggu di rumah sunatan emang asyik. Banyak mainan dan ngepop dengan menampilkan wall covering berisikan tokoh jagoan klasik macem Superman, Spiderman, dan yang sempet ngetop belakangan ini: Naruto. So, ngeliat banyak mainan gitu maka adek sama sekali nggak ngerasa grogi. Dia enjoy aja dan menolak di-tapping. Sementara si kakak Alif keliatan mulai grogi dan sepanjang nunggu bergantian di-tapping oleh Kiki dan Masku.

.JPG)
1.JPG)
2.JPG)
Adek, sesuai pesanan minta disunat duluan dari kakak. Ya udah, masuklah ia dengan gagah berani di atas 2 kakinya sendiri. Naik sendiri pula ke meja sunat yang dilengkapi TV portable. Adek bilang minta ditemenin ibu. Oke, Kiki memposisikan memeluk dia sambil menghalangi pandangannya dari sang dokter yang siap dengan perkakas penyunatannya. Saat disuntik bius ia sempet teriak nangis kejer. Lalu berangsur tenang sejalan dengan tak hentinya mulutku mengajaknya bercerita tentang jagoan Exoforce yang dia punya: Haya-to, Hikaru, dan Takeshi. Kita sama-sama berimajinasi tentang pertempuran yang dilakukan mereka melawan Devastator dan 7707 (inilah asyiknya punya anak yang dominan otak kanan hehehe....). Sementara itu jemariku tak henti men-tapping secara shortcut berulang-ulang sambil terus berusaha menjaga kontak mata dengan cintaku itu hingga proses sunatan selesai.
Alhamdulillah tidak sampai 10 menit semua berakhir dengan sukses. Terkecuali untuk suamiku yang ternyata hampir pingsan sesaat setelah mendengar teriakan adek (katanya sih tekanan darahnya mendadak drop, tapi aku sih lebih percaya karena sangking sayangnya jadi nggak tega denger teriakan adek pas disuntik bius hehehe...).
Prosesi sang keponakan berlangsung lebih ruwet. Total menghabiskan waktu hampir 2 jam (dari pembujukan hingga selesai disunat). Tantangan yang lumayan berat dari ketiadaan ”trust” hik hik...
Saat semua selesai, Kiki sempetin mampir ke sang dokter mengucapkan terima kasih. Terus terang karena keburu kalut ngadepin Masku yang masih keleyengan dan membujuk kakak Alif, aku nggak sempet nanyain gimana hasil sunatan adek.
Alhamdulillah menurut dokter hasilnya baik sekali dan ia memuji Kiki karena demikian cepat membuat adek tenang hanya dengan menepuk-nepuk (sambil menggumam dalam hati: iya dok, Kiki sebenernya nggak terlalu yakin apa Kiki telah men-tapping pada titik yang benar, hanya waktu itu kepepet banget harus ikhlas dan pasrah sepenuhnya pada Alloh agar memberi pertolongan). Alhamdulillah, berkat-NYA Kiki sanggup bertahan hingga selesai proses syukuran dan bahkan sempet pula mampir liat pameran tanaman di Senayan hehehehe...
Alhamdulillah, sujud syukur pada-Mu ya Rabb...
Pulang dari Senayan dapet pot dan beberapa sanse mini. Kyut banget! (liat tiga pot yang dibelakang ya....pssst ada Kiki numpang mejeng...hayoh dimana? hehehe...)
.
Sabtu 28 Juni adalah hari bersejarah buat kami. Adek yang lahir 11 Oktober 2008 (ato sekitar 8 taon kurang 4 bulan per hari tsb) resmi disunat pada pukul 11 siang lewat dikit. Sunatan dilakukan di rumah sunatan (www.rumahsunatan.com) cabang Jl. Pondasi, Kampung Ambon karena disitulah yang terdekat dari rumah kami.
Di hari sebelum sunat, Kiki izin sehari nemenin adek milih mainan permintaan (aka sogokan hehehe..). Terpilihlah salah satu seri Lego Exoforce, majalah XY Kids, dan kaos Ben10 bergambar wild mutt (gini ya nulisnya?).
Pas S-day sebelum dimulainya prosesi, inilah mereka lagi pada nyengir kesenengan. Ruang tunggu di rumah sunatan emang asyik. Banyak mainan dan ngepop dengan menampilkan wall covering berisikan tokoh jagoan klasik macem Superman, Spiderman, dan yang sempet ngetop belakangan ini: Naruto. So, ngeliat banyak mainan gitu maka adek sama sekali nggak ngerasa grogi. Dia enjoy aja dan menolak di-tapping. Sementara si kakak Alif keliatan mulai grogi dan sepanjang nunggu bergantian di-tapping oleh Kiki dan Masku.
Adek, sesuai pesanan minta disunat duluan dari kakak. Ya udah, masuklah ia dengan gagah berani di atas 2 kakinya sendiri. Naik sendiri pula ke meja sunat yang dilengkapi TV portable. Adek bilang minta ditemenin ibu. Oke, Kiki memposisikan memeluk dia sambil menghalangi pandangannya dari sang dokter yang siap dengan perkakas penyunatannya. Saat disuntik bius ia sempet teriak nangis kejer. Lalu berangsur tenang sejalan dengan tak hentinya mulutku mengajaknya bercerita tentang jagoan Exoforce yang dia punya: Haya-to, Hikaru, dan Takeshi. Kita sama-sama berimajinasi tentang pertempuran yang dilakukan mereka melawan Devastator dan 7707 (inilah asyiknya punya anak yang dominan otak kanan hehehe....). Sementara itu jemariku tak henti men-tapping secara shortcut berulang-ulang sambil terus berusaha menjaga kontak mata dengan cintaku itu hingga proses sunatan selesai.
Alhamdulillah tidak sampai 10 menit semua berakhir dengan sukses. Terkecuali untuk suamiku yang ternyata hampir pingsan sesaat setelah mendengar teriakan adek (katanya sih tekanan darahnya mendadak drop, tapi aku sih lebih percaya karena sangking sayangnya jadi nggak tega denger teriakan adek pas disuntik bius hehehe...).
Prosesi sang keponakan berlangsung lebih ruwet. Total menghabiskan waktu hampir 2 jam (dari pembujukan hingga selesai disunat). Tantangan yang lumayan berat dari ketiadaan ”trust” hik hik...
Saat semua selesai, Kiki sempetin mampir ke sang dokter mengucapkan terima kasih. Terus terang karena keburu kalut ngadepin Masku yang masih keleyengan dan membujuk kakak Alif, aku nggak sempet nanyain gimana hasil sunatan adek.
Alhamdulillah menurut dokter hasilnya baik sekali dan ia memuji Kiki karena demikian cepat membuat adek tenang hanya dengan menepuk-nepuk (sambil menggumam dalam hati: iya dok, Kiki sebenernya nggak terlalu yakin apa Kiki telah men-tapping pada titik yang benar, hanya waktu itu kepepet banget harus ikhlas dan pasrah sepenuhnya pada Alloh agar memberi pertolongan). Alhamdulillah, berkat-NYA Kiki sanggup bertahan hingga selesai proses syukuran dan bahkan sempet pula mampir liat pameran tanaman di Senayan hehehehe...
Alhamdulillah, sujud syukur pada-Mu ya Rabb...
Pulang dari Senayan dapet pot dan beberapa sanse mini. Kyut banget! (liat tiga pot yang dibelakang ya....pssst ada Kiki numpang mejeng...hayoh dimana? hehehe...)
Rabu, 25 Juni 2008
Sanse penyakitan (contd)
Ngelanjutin postingan tentang sanse yang kena busuk basah dari Erwinia.
Sekarang sanse yang di foto dulu http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/06/sanse-penyakitan.html tinggal yang daun gedean doang. Yang kecilnya mati. Rekan sepotnya yang berdaun empat kini tinggal 3. Ternyata rendeman antibiotik nggak manjur-manjur amat dalam menjegal si Erwinia. Meskipun secara 2 minggu lebih masih pada bertahan hidup ya sebenernya kinerja air antibiotik nggak jelek-jelek amat kali, ketimbang nggak diapa-apain dalam 2-5 hari pasti tinggal mbuangnya ke tong sampah. So, peluang mencoba di lain waktu bisa diteruskan hehehe...
Beberapa hari yang lalu, sanse kirkii var pulchra sedaun yang kudapet dari MY's Nursery tanpa ketahuan udah mati kena si Erwinia ini (135k melayang hiks hiks). Herannya, sebatang jenis sama (dari Fesansevierianursery) yang kutaruh satu pot dengannya menter aja tuh, masih sehat wal'afiat ck ckck. Mungkin karena yang satu ini lebih gedean kali, jadi si Erwinia udah minder duluan untuk ngedeketin hehehe...so, yang udah mati biarlah mati, kita ganti dengan yang lain. Diikhlasin aja, ya khan?. Ya dong.
Eniwei, buat yang berani semprot-semprot pestisida dan kawan-kawannya, ini ada resep mengobati Erwinia dari Pak Yayan Pribadi yang Kiki kutip dari milis sansevieria_id@yahoogroups.com
Kalau kena erwina, biasanya lewat.
Kalau baru mulai kena, potong bagian yang sudah lembek basah, yang masih belum lembek mungkin masih bisa diselamatkan. Mungkin sisa tanaman masih bisa diselamatkan (kalau masih tersambung dengan rimpangnya atau tinggal sisa daunnya aja buat stek daun).
Caranya, sisa tanaman disemprot bakterisida lalu dikering anginkan, kalau perlu dijemur 2-3 hari.Terus digantung, jangan ditanam, selama beberapa hari sd 14 hari. Biasanya sampai kelihatan kering dan agak berkerut, baru ditanam lagi. Mungkin bisa selamat.Tidak ada jaminan, tergantung bakteri sudah menyebar kemana. Kalau dikering anginkan dan tetap mati, ya nasib lah.
Oh gitu ya Pak...makasih ya (sambil garuk garuk kepala eh kerudung yang nggak gatel...ya Alloh, semoga sanse-ku pada sehat aja yaa...Amin....pssst! mulai pagi ini semua sanse pada Kiki lepas mejeng di teras untuk menikmati sentuhan langsung matahari pagi siang sore).
Sekarang sanse yang di foto dulu http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/06/sanse-penyakitan.html tinggal yang daun gedean doang. Yang kecilnya mati. Rekan sepotnya yang berdaun empat kini tinggal 3. Ternyata rendeman antibiotik nggak manjur-manjur amat dalam menjegal si Erwinia. Meskipun secara 2 minggu lebih masih pada bertahan hidup ya sebenernya kinerja air antibiotik nggak jelek-jelek amat kali, ketimbang nggak diapa-apain dalam 2-5 hari pasti tinggal mbuangnya ke tong sampah. So, peluang mencoba di lain waktu bisa diteruskan hehehe...
Eniwei, buat yang berani semprot-semprot pestisida dan kawan-kawannya, ini ada resep mengobati Erwinia dari Pak Yayan Pribadi yang Kiki kutip dari milis sansevieria_id@yahoogroups.com
Kalau kena erwina, biasanya lewat.
Kalau baru mulai kena, potong bagian yang sudah lembek basah, yang masih belum lembek mungkin masih bisa diselamatkan. Mungkin sisa tanaman masih bisa diselamatkan (kalau masih tersambung dengan rimpangnya atau tinggal sisa daunnya aja buat stek daun).
Caranya, sisa tanaman disemprot bakterisida lalu dikering anginkan, kalau perlu dijemur 2-3 hari.Terus digantung, jangan ditanam, selama beberapa hari sd 14 hari. Biasanya sampai kelihatan kering dan agak berkerut, baru ditanam lagi. Mungkin bisa selamat.Tidak ada jaminan, tergantung bakteri sudah menyebar kemana. Kalau dikering anginkan dan tetap mati, ya nasib lah.
Oh gitu ya Pak...makasih ya (sambil garuk garuk kepala eh kerudung yang nggak gatel...ya Alloh, semoga sanse-ku pada sehat aja yaa...Amin....pssst! mulai pagi ini semua sanse pada Kiki lepas mejeng di teras untuk menikmati sentuhan langsung matahari pagi siang sore).
Selasa, 17 Juni 2008
Sanse badminton
Demam badminton masih aja berlangsung di rumah.
Kalo Indonesia kalah di Uber dan Thomas Cup sekaligus, maka di rumah Kiki yang kalah adalah salah satu sanse-ku yang kata beberapa orang bernama midnight star atau midnight fountain (lihat jualannya Pak Dwi Pur di http://indonetwork.co.id/griya_sanse/754381/midnight-fountain.htm).
Kekalahan si sanse cukup telak, kena salah satu daun terpanjang. Lawannya adalah raket badminton yang melayang dengan kecepatan penuh dari jalanan depan rumah sampai ke teras.
Pelakunya? sudah jelas Abim cintaku yang belum genap berumur 8 tahun.
Marah? Iya.
Diterima dipeluk disadari kehadiran marahnya selanjutnya berusaha diikhlaskan dipasrahkan dilepaskan dengan cara yang benar. Pastinya bukan dengan dilampiaskan (ingat hukum 10/90-nya Oom Covey = 10% kejadian berada di luar kendali, 90% lanjutannya tergantung pada respon kita terhadap kejadian tersebut).
Oke, itu hanya tanaman, dia mungkin berada di tempat yang salah sore itu. Nggak lepas dari kreativitas bibik yang pingin menampilkan sisi terbaik dari si sanse (dipindah-pindah tempat naroknya).
So, rasanya terlalu berlebihan apabila Kiki respon dengan teriakan amarah semusim yang dapat membekas permanen di hati putra cilikku dan bibik-ku.
Alhamdulillah di tengah kecamuk rasa tadi Masku pulang kerja. So cukup alasan bagi Kiki untuk diam-diam menghilang masuk kamar, berendam air hangat, sambil mencoba mengamati perasaan yang silih berganti nggak keruan. Oke, aku terima rasa marah ini tapi lalu tanaman yang sudah patah mau diapain?.
Well setelah merenung dua jenak, Kiki turun lagi ke ruang tengah. Patahnya si sanse ada di titik tumbuhnya. Mau dipatahin sekalian belum tega, ya sudah akhirnya kuambillah sebuah garpu plastik dan kusangga sang sanse dengan garpu tadi. Setelah yakin ia dalam posisi yang benar dan baik, Kiki beringsut balik masuk kamar dan tidur.
Diam sambil berusaha memahami rasa diri jauh lebih baik ketimbang berkata-kata yang berpotensi memperburuk suasana dan justru dapat mematahkan hati orang tercinta di sekitarku.
Alhamdulillah... pagi ini suasana kembali normal.
Semua berjalan baik seperti sedia kala, bahkan luar biasa baik karena Kiki yakin semua kejadian sudah sempurna seperti adanya hehehe...
Eniwei...please ya helep saran dari para pencinta sanse tuk ngobatin daun yang patah...soalnya si garpu penyangga mau dipake makan indomie lagi hehehe...
Kalo Indonesia kalah di Uber dan Thomas Cup sekaligus, maka di rumah Kiki yang kalah adalah salah satu sanse-ku yang kata beberapa orang bernama midnight star atau midnight fountain (lihat jualannya Pak Dwi Pur di http://indonetwork.co.id/griya_sanse/754381/midnight-fountain.htm).
Kekalahan si sanse cukup telak, kena salah satu daun terpanjang. Lawannya adalah raket badminton yang melayang dengan kecepatan penuh dari jalanan depan rumah sampai ke teras.
Pelakunya? sudah jelas Abim cintaku yang belum genap berumur 8 tahun.
Diterima dipeluk disadari kehadiran marahnya selanjutnya berusaha diikhlaskan dipasrahkan dilepaskan dengan cara yang benar. Pastinya bukan dengan dilampiaskan (ingat hukum 10/90-nya Oom Covey = 10% kejadian berada di luar kendali, 90% lanjutannya tergantung pada respon kita terhadap kejadian tersebut).
Oke, itu hanya tanaman, dia mungkin berada di tempat yang salah sore itu. Nggak lepas dari kreativitas bibik yang pingin menampilkan sisi terbaik dari si sanse (dipindah-pindah tempat naroknya).
So, rasanya terlalu berlebihan apabila Kiki respon dengan teriakan amarah semusim yang dapat membekas permanen di hati putra cilikku dan bibik-ku.
Alhamdulillah di tengah kecamuk rasa tadi Masku pulang kerja. So cukup alasan bagi Kiki untuk diam-diam menghilang masuk kamar, berendam air hangat, sambil mencoba mengamati perasaan yang silih berganti nggak keruan. Oke, aku terima rasa marah ini tapi lalu tanaman yang sudah patah mau diapain?.
Well setelah merenung dua jenak, Kiki turun lagi ke ruang tengah. Patahnya si sanse ada di titik tumbuhnya. Mau dipatahin sekalian belum tega, ya sudah akhirnya kuambillah sebuah garpu plastik dan kusangga sang sanse dengan garpu tadi. Setelah yakin ia dalam posisi yang benar dan baik, Kiki beringsut balik masuk kamar dan tidur.
Diam sambil berusaha memahami rasa diri jauh lebih baik ketimbang berkata-kata yang berpotensi memperburuk suasana dan justru dapat mematahkan hati orang tercinta di sekitarku.
Alhamdulillah... pagi ini suasana kembali normal.
Semua berjalan baik seperti sedia kala, bahkan luar biasa baik karena Kiki yakin semua kejadian sudah sempurna seperti adanya hehehe...
Eniwei...please ya helep saran dari para pencinta sanse tuk ngobatin daun yang patah...soalnya si garpu penyangga mau dipake makan indomie lagi hehehe...
Senin, 16 Juni 2008
Sanse Internetan (2)
Rabu, 11 Juni 2008
Sanse nama: be careful!
Duapuluh menitan ini dihabiskan ngintip obrolan komunitas sanse. Berikut sekedar cuplikan info dari Mr Cereusly Steve, sang pakar di forum tersebut dalam menanggapi nama-nama “ngepop” sanse (khususnya di Indo dan Thailand)…
Many of the plants in the Indonesian and Thai collections are renamed plants.
The amateur vanity picture books out there are full of errors and pictures of plants that are misidentified. They are obviously renamed plants. I wince ever time I see a new one come out. Its getting ridiculous and increasingly worse. It is impossible for you to "strive painstakingly to get the correct names of the plants" when most of the original publications are not accessible to you and most of the relevant information is still unpublished. So where on earth would you be getting the correct info? It has taken me years to round up all the original information in various libraries, sometimes with the help of other researchers. Your best source for info would be the Sansevieria journal and there is still a lot more yet to be said on the subject. (http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4633)
Sebagai penutup, dalam imilnya yang lain beliau ini bilang…
It is up to you to enjoy growing the plants. Leave the headaches of nomenclutter to those already working on it. http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4639
(nggak berani ngebayangin gimana komen Om Cereusly Steve ini kalo sempet ngebaca nama-nama sanse di blog Kiki hihihi –secara terbitan Trubus aja belum recommended (lihat di http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4635) -- so ampyun ya Om Steve, Kiki cuma gemar menanam dan merawat, tarok-tarok nama disitu sekedar biar bisa ngobrol dengan sesama penggemar doangan koq…cleguk cleguk…peace ya Om…)
Many of the plants in the Indonesian and Thai collections are renamed plants.
The amateur vanity picture books out there are full of errors and pictures of plants that are misidentified. They are obviously renamed plants. I wince ever time I see a new one come out. Its getting ridiculous and increasingly worse. It is impossible for you to "strive painstakingly to get the correct names of the plants" when most of the original publications are not accessible to you and most of the relevant information is still unpublished. So where on earth would you be getting the correct info? It has taken me years to round up all the original information in various libraries, sometimes with the help of other researchers. Your best source for info would be the Sansevieria journal and there is still a lot more yet to be said on the subject. (http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4633)
Sebagai penutup, dalam imilnya yang lain beliau ini bilang…
It is up to you to enjoy growing the plants. Leave the headaches of nomenclutter to those already working on it. http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4639
(nggak berani ngebayangin gimana komen Om Cereusly Steve ini kalo sempet ngebaca nama-nama sanse di blog Kiki hihihi –secara terbitan Trubus aja belum recommended (lihat di http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4635) -- so ampyun ya Om Steve, Kiki cuma gemar menanam dan merawat, tarok-tarok nama disitu sekedar biar bisa ngobrol dengan sesama penggemar doangan koq…cleguk cleguk…peace ya Om…)
Selasa, 10 Juni 2008
Sanse berbunga
Setelah hampir 3 minggu si Lorentii kunaikkan pangkat menjadi penjaga pintu dalam, maka dia menghadiahiku bunga. Yep, bener...dia berbunga. Sebenernya udah sering sih liat bunga begituan setiap kali maen ke TBN, cuma.... itu khan bukan milik sendiri...
("mom...no touchy touchy!" begitu kata si embak sambil geleng-geleng kepala setiap kali dia liat aku mulai keliatan gemez pengen nowel beragam bunga yang ada di TBN hehehe...).
Enjoy the pic:
Sanse ngepot
Bukan sanse yang suka kebut-kebutan naik motor.
Cuma mau sharing kalo pot itu pengaruh banget dalam ngebangun citra sanse.
Di bawah ini beberapa contohnya yang baru di-repotting pagi tadi (katanya Kiki lagi sakit....koq? hehehe).
Sekarang Kiki udah enakan koq, jadi malez periksa darah pula. Dihantem aja pake jus kurma. Glek glek!
Para pencinta sanse tentunya udah pada punya buku "Sansevieria Wonderful Collection" dari Flonaserial khan?. Disitu tiap sanse duduk tegak (kalo berdiri khan cape kali hehehe) pada pot yang cantik berbahan keramik. Bagus-bagus deh potnya. Bikin ngiler.
Kebetulan kemaren ini di pameran kebudayaan di JHCC Senayan ada yang jualan pot keramik dengan harga yang IMHO wajar. Pelayanannya juga bagus. Begitu tahu bahwa Kiki nggak bawa kendaraan, maka sang penjual langsung berinisiatif nganter pot yang sak gdumbreng itu ke rumah. Dan esok harinya tuh pot satu doos udah nangkring di garasi.
Nah terus...bukannya jualan atau promosi. Hanya barangkali perlu, namanya Agung Keramik, kalo nggak di pameran maka doi mangkal di Bintaro Jaya. Percisnya PM Kiki aza ya...
Sanse koral biru
Di Rawa Belong tepatnya, nggak jauh dari mesjid.
Kesananya rada maksa. Pulang kantor.
Perjalanan dimulai dari KBS naek ojek (biar ngga betjek hehehe...) ke Benhil (nekaaatttt...). Lalu dilanjut numpang mobil Om Herlan (soalnya aku ngga pernah hapal jalan kesana hehehe).
Ya tahu deh, nyampenya pasti waktu udah rada gelap aka bukan waktu yang tepat untuk lihat-lihat. Tapi secara nafsu (jujur nih...), rasanya oke aja dijabanin.
Si Pak Haji yang empunya lagi ngga ada, ya udah bertransaksi aja dengan istrinya. Setelah tawar sana-sini, akhirnya kugembol pulang dua jenis sanse.
Yang pertama ini, diakui sang penjual sebagai Coral Blue. Well secara Kiki belumlah jadi ahli penamaan sanse, hanya sekedar penikmat, maka please deh diintip wahai para pakar...apa iya gambar di atas itu adalah sanse yang kesohor itu? (mudah-mudahan iya please...please...please...ngerogoh dompetnya rada dalem nih hiks hiks).
Ini langsung dipotek dari induknya. Sepintas nggak terlalu istimewa, tapi paling sehat (dan berharga paling wajar) ketimbang jenis lain yang ada di sana.
Woooke deh...met gabung di rumah Kiki ya...dilarang beranteman...kalo soal itu cukup dimonopoli embak dan adek aja!
Sanse internetan (1)
Tapi seperti biasa Kiki ngga begitu care dengan itu sampe beneran kirimannya dateng (rada lelet sih, musti di-SMS berkali-kali). Nih dia, Kiki share si murmer itu sekalian maen 'where's wally' kaleee...
Yang satunya sih rada lumayan.
Kata yang jual sih jenis ini namanya Hahnii Steaker (kalo di buku sih "Hahnii Swirls", terserah deh mau percaya yang mana hehehe...).
Yang pasti daunnya meliuk-liuk laksana barusan ketiup angin kencang dari arah kanan. Warna daun hijau tua mengapit warna krem yang ada di tengah. Dari tiga pesanan, hanya ini yang mulus, selebihnya bertanda udah pernah kena cendawan...ck ck ck...kayaknya nggak pesen pake begituan deh...ekstra hadiah kali yeeeee ...hiks hiks hiks...eniwei makasih ya...
Langganan:
Postingan (Atom)