Rabu, 02 Juli 2008

Sanse-gembrong

Beberapa sumber di internet mengatakan bahwa tanaman ini bernama Kirkii var Pulchra. Banyak yang percaya bahwa ini adalah sanse yang paling indah (terjemahan bebas halaman 31 bukunya bu Hermine hahaha...). Iya sih, menurut Kiki ia juga yang paling cantik. Karenanya ia lalu maskot di rumah Kiki.

Tampilan dasar daunnya gelap dengan bercak-bercak nyata yang bentuknya bervariasi. Ada yang rada putih, krem, ada juga kekuningan. Panjang daunnya lumayan bisa sampai 1 meteran. ada yang berdiri tegak dan ada mbleber ke samping tergantung maunya dia hehehe. Aslinya aku punya 2 batangan doang. Satu batang kecil mati kena bakteri. Yang satu lagi masih utuh aman terkendali. Hanya lalu kesian ngga ada temennya, maka lalu kubelilah yang satu ini dari Mas Fery.

Waktu dia dateng, aku dikejutkan dengan kotaknya yang demikian raksasa. Panjangnya lebih dari 1 meter dengan tinggi sekitar 50 cm. Begitu dibuka, maka tampaklah kegagahannya. Rada maskulin gitu, garang ala KISS grup musik rock jaman babe gue. Jadilah sementara aku tanem dia di pot yang ada. Rada kekecilan mungkin, nantilah 3 bulan lagi di repotting.
Bibi yang ngeliat langsung komentar "duile ibu, ini sansevieria bukan? Gembrong amat bu?"
Maka sejak itu nama sayangnya adalah si gembrong alias gondrong. Waktu dipindah, banyak akarnya yang tercerabut. Insya Alloh nggak apa-apa...maapin yaaa...
Mudah-mudahan si gembrong bisa enjoy dengan rumah barunya.

Sanse-pameran

Lagi ada pameran Trubus di Parkit.
Sabtu lalu udah kesana dan hari ini diniatin dateng lagi pas istirahat atau pulang kantor. Diantara rumpun anthurium, aglonema atau puring, pastinya ada aja yang menyelipkan beberapa pot sanse. Ada yang serius, ada yang seadanya doang. Seadanya alias kalo dikasih pun nggak mau mungut (ngesok amat yaaa, emang ada gitu yang mau ngasih hehehe). Sanse-nya ngga mulus, jerawatan bekas penyakit dan nanemnya nggak niat. Nyebelinnya yang model begini ngasih harga juga ngawur aja. Bener-bener musti jaga hati ngadepin penjaga stan yang beginian.

Buat yang serius, ada salah satu peserta (lupa namanya) yang spesialis di bonsai tapi juga me-minikan berbagai taneman lain termasuk sanse. Sebagian besar jualannya cantik-cantik, ditata dengan keindahan, sehat, dan yang paling penting harganya reasonable (liat foto di bagian bawah posting http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/07/sunatan.html). Nanti deh kalo udah ketemu lagi aku cantumin nama nursery-nya.

Nah buat yang 100% serius, ada Bloomfield dan Deesent Art di seberangnya yang khusus jualan sanse doang. Tentunya yang dipajang di tempat ini adalah sanse pilihan. Harga juga pilihan. Kalo cuma bawa uang ratusan ribu nggak dapet apa-apa. Semua dibandrol dalam juta tanpa ekspresi. Ini cuplikan peristiwanya:

K (Kiki) : "Maap Pak, liat dan nanya dulu ya. Ini namanya apa Pak?"
P (P'jual) : "ckahfahofhahfiogfiowfwug" (ngomong nggak jelas gitu kayak kumur-kumur, tampilan Kiki kurang prospektif kali ya?)

K : (dalem hati: gpp, apapun namanya ia cantik sekali) "Harganya berapa Pak?"
P : "tiga setengah"

K : "Ooooo, kalo yang ini?" (sambil nunjuk jenis yang sama cuma lebih besar).
P : "tujuh"

K : (belagak ngerti padahal nggak) "tujuh itu apa Pak, ratus atau juta?"
P : "juta"

K : (sambil terbelalak dan ngetawain diri sendiri) "Hehehe, maap ya Pak, tadinya saya kira ribu. Wah kalo gitu yang ini berapa ya?" (sambil ngeloyor ngejauhin tuh taneman...belakangan aku baru tahu bahwa sanse itu dinamai "black masoniana hybrid")
P : "Ini 2,5 lalu itu 1,5 dst dst dst" (sambil nunjuk ke berbagai arah).

K : (sambil cengingiran) "Oke deh Pak, makasih ya. Salut saya dengan harganya, kayaknya belum mampu beli nih Pak?"
P : (sambil nyengir juga) "Diliat-liat aja bu"

(kayaknya dalem hati dia juga bilang: "tuh khan bener nggak prospektif hehehe...")

Ya udah, dari situ akhirnya aku beringsut pelan ke stan sebrangnya yang jualan pot keramik. Beli beberapa dan nengok ke stan sebelah yang spesialis jualan sanse juga. Harga yang beterbangan ya nggak beda dengan sebelumnya, hanya lebih bersahabat karena disampaikan berikut tips and trick cara merawat dlsb (sebenernya itu juga bukan diarahkan ke Kiki, tetapi ke seorang tauke berbatik yang sepintas nguping pernah beli salah satu sanse koleksinya di mereka hehehe...).

Makanya....lain kali ke pameran musti tampil rada gayaan dikit...with style (padahal belum tentu beli juga hehehe...)

Yuk ke pameran!

Selasa, 01 Juli 2008

Sanse-BB

Gambar di kiri ini katanya masih keturunan Nelsonii. Penjelasan dari buku nggak begitu jelas (berarti bukan penjelasan dong hehehe...). Bentuknya rada mirip si "pedang Jono" itu alias Black America, tapi ada bercak-bercak di pinggir daunnya yang cantik dan terkadang melintang tapi nggak di sekujur daun. Katanya sih asalnya dari Brazil makanya dinamai Black Brazilian. Pake judul "black" mungkin karena warna hijaunya yang gelap banget. Sempet liat yang mirip-mirip di stan Deesent Art pameran Trubus Parkit. Hanya lebih pendek dan rada murah dari waktu Kiki beli (cleguk cleguk).


Pastinya aku belum punya yang model begini, maka sekarang disimpan dulu di balik jendela foyer biar kena angin dan nggak terlalu kepanasan amat. Maklum habis perjalanan lumayan jauh. Liat deh, daun barunya sampe miring begitu...kesian hik hik.


Soal ngerawat, ya itu tadi, belum punya pengalaman. Kalo dia sekelas dengan lorentii biasa ya kayaknya sih seneng panas-panasan. Tapi nanti dulu deh...sekarang masih masa pelepasan stress dulu. Biarkan ia santai dulu menikmati hawa panasnya Jakarta dari balik kaca.

sanse-bagamo

Nama sanse ini konon bagamoyensis.

Di berbagai forum maya lokal, dijual dengan nama yang variatif antara bagamoyensis dan gracilis. So, what's in a name?

Banyak sih...harga misalnya hehehe...

Eniwei, selama ini Kiki berusaha menjaga kecintaan sanse pada bentuk indah rupanya, maka nama menjadi tidak terlalu penting saat membeli sepanjang harga tidak terlalu mencekik leher. Nama, baru jadi penting saat dihadapkan pada urusan rawat-merawat. Bahwa misalnya sanse daun tipis dengan dominansi kuning seperti golden banner ternyata punya cara perawatan yang rada genit http://bj-sanse.blogspot.com/2008/06/golden-benner-cantik-lemah-lembut-tapi.html. Katanya sanse beginian nggak boleh kena sinar matahari lebih dari jam 10.00 (iya lah...khan belum pake sun block gitu loch!) dan taunya gak boleh terlalu terekpose dengan pupuk berkadar N tinggi.

Nah...hanya saja Kiki belum tahu apakah kemudian semua sanse jenis daun tipis dominan kuning yang ngeroset seperti itu musti dirawat dengan cara yang sama. Kalo iya, maka hipotesanya sekedar deskripsi (tanpa nama) tetap valid dalam konteks rawat-merawat...
Hanya lagi, gimana cara ngebuktiin hipotesanya, ya?

Does anyone have a clue?

sanse-splendens

Nggak terlalu yakin dengan namanya. Yakin hanya pada pencipta-Nya hehehe...
Kabarnya ia bernama "splendens". Kalau dilihat di bukunya Ibu Hermine Stover (yang sering dicela-cela Om Steve di milis sanse) penjelasan splendens adalah begini: shiny, dark green blade shaped leaves narrowing into channeled petioles, red leaf margins and dried white edges.

Ehhhmmmm...opo yo iku maksute hehehe...pastinya punya Kiki yang cuma satu-satunya ini emang berpinggir putih karena keseleo waktu dikirim dan lalu mengering deh salah satu ujung daun anakannya hik hik hik.

Soal harga masih masuk kategori murmer-lah. Nggak perlu minta BLT dari Masku untuk menebusnya hehehe...

Sanse-batang kcil

Sanse yang ini sepertinya masih saudara dari cilindrica. Tiap lembar daunnya membulat dan cenderung gemulai apabila udah kepanjangan. So, pakailah penyangga kalo pingin dia numbuh tegak. Salur di daunnya nggak begitu jelas, dominansi warna hijau kentara sekali. Seperti saudara sejenisnya, si canaliculata ini lumayan bandel. Semakin kering semakin asyik, katanya.

Yang di foto ini jenis yang cebolnya, dapet dari Sukoharjo dengan harga persahabatan.

Sanse-miss pinggu

Sanse jenis ini kabarnya lagi disuka.
Daunnya keras, tebal, nge-roset dan pertumbuhannya lambat. Ditemukan dan dinamai oleh Peter Bally pada 1964. Dari hasil nguping, katanya ada dua jenis pinguiculata yang beredar di Indo. Pertama yang philipsiae, kedua yang longifolia (bener gini nulisnya ya?, kalo salah mohon maaf, mohon diluruskan). Jenis pertama lebih montok, buntek. Sementara yang jenis kedua bisa panjang-panjang gitu kayak cakar nenek sihir. Keduanya punya duri tajam di tiap ujung daunnya. So hati-hati, baiknya tidak diletakkan di area yang terjangkau tangan-tangan mungil. Untuk jenis pertama seukuran gambar ini (kira-kira lebih besar dikit dari koin 500 yang tembaga, harganya per Mei-Juni ini di sekitar 300k) ada sih yang lebih mahal, kalo prinsipnya beli apa aja asal mahal hehehe...

Waktu bayi begini, bisa rada saru bentuknya antara miss pinggu dengan mr lav 1970. Nanti setelah pada toddlers baru deh keliatan bedanya. Sabarlah menunggu 3-5 tahun lagi hehehe...

Sunatan

Maaf, posting ini nggak ada kaitannya dengan sanse. Kalo dihubung-hubungin cuma karena Maknya yang mau disunat doyan miara sanse.

Sabtu 28 Juni adalah hari bersejarah buat kami. Adek yang lahir 11 Oktober 2008 (ato sekitar 8 taon kurang 4 bulan per hari tsb) resmi disunat pada pukul 11 siang lewat dikit. Sunatan dilakukan di rumah sunatan (www.rumahsunatan.com) cabang Jl. Pondasi, Kampung Ambon karena disitulah yang terdekat dari rumah kami.

Di hari sebelum sunat, Kiki izin sehari nemenin adek milih mainan permintaan (aka sogokan hehehe..). Terpilihlah salah satu seri Lego Exoforce, majalah XY Kids, dan kaos Ben10 bergambar wild mutt (gini ya nulisnya?).

So, sesiang dan semalam sebelum sunatan, si adek sibuk merakit robotnya, untuk kemudian akan dipegang selama sunat (“jadi kalo aku kesakitan, bisa ngeliatin robotnya, trus jadi nggak sakit lagi deh....”). Merakitnya ditemani keponakan yang akan dibarengin sunat juga.

Pas S-day sebelum dimulainya prosesi, inilah mereka lagi pada nyengir kesenengan. Ruang tunggu di rumah sunatan emang asyik. Banyak mainan dan ngepop dengan menampilkan wall covering berisikan tokoh jagoan klasik macem Superman, Spiderman, dan yang sempet ngetop belakangan ini: Naruto. So, ngeliat banyak mainan gitu maka adek sama sekali nggak ngerasa grogi. Dia enjoy aja dan menolak di-tapping. Sementara si kakak Alif keliatan mulai grogi dan sepanjang nunggu bergantian di-tapping oleh Kiki dan Masku.














Adek, sesuai pesanan minta disunat duluan dari kakak. Ya udah, masuklah ia dengan gagah berani di atas 2 kakinya sendiri. Naik sendiri pula ke meja sunat yang dilengkapi TV portable. Adek bilang minta ditemenin ibu. Oke, Kiki memposisikan memeluk dia sambil menghalangi pandangannya dari sang dokter yang siap dengan perkakas penyunatannya. Saat disuntik bius ia sempet teriak nangis kejer. Lalu berangsur tenang sejalan dengan tak hentinya mulutku mengajaknya bercerita tentang jagoan Exoforce yang dia punya: Haya-to, Hikaru, dan Takeshi. Kita sama-sama berimajinasi tentang pertempuran yang dilakukan mereka melawan Devastator dan 7707 (inilah asyiknya punya anak yang dominan otak kanan hehehe....). Sementara itu jemariku tak henti men-tapping secara shortcut berulang-ulang sambil terus berusaha menjaga kontak mata dengan cintaku itu hingga proses sunatan selesai.

Alhamdulillah tidak sampai 10 menit semua berakhir dengan sukses. Terkecuali untuk suamiku yang ternyata hampir pingsan sesaat setelah mendengar teriakan adek (katanya sih tekanan darahnya mendadak drop, tapi aku sih lebih percaya karena sangking sayangnya jadi nggak tega denger teriakan adek pas disuntik bius hehehe...).

Prosesi sang keponakan berlangsung lebih ruwet. Total menghabiskan waktu hampir 2 jam (dari pembujukan hingga selesai disunat). Tantangan yang lumayan berat dari ketiadaan ”trust” hik hik...

Saat semua selesai, Kiki sempetin mampir ke sang dokter mengucapkan terima kasih. Terus terang karena keburu kalut ngadepin Masku yang masih keleyengan dan membujuk kakak Alif, aku nggak sempet nanyain gimana hasil sunatan adek.

Alhamdulillah menurut dokter hasilnya baik sekali dan ia memuji Kiki karena demikian cepat membuat adek tenang hanya dengan menepuk-nepuk (sambil menggumam dalam hati: iya dok, Kiki sebenernya nggak terlalu yakin apa Kiki telah men-tapping pada titik yang benar, hanya waktu itu kepepet banget harus ikhlas dan pasrah sepenuhnya pada Alloh agar memberi pertolongan). Alhamdulillah, berkat-NYA Kiki sanggup bertahan hingga selesai proses syukuran dan bahkan sempet pula mampir liat pameran tanaman di Senayan hehehehe...

Alhamdulillah, sujud syukur pada-Mu ya Rabb...

Pulang dari Senayan dapet pot dan beberapa sanse mini. Kyut banget! (liat tiga pot yang dibelakang ya....pssst ada Kiki numpang mejeng...hayoh dimana? hehehe...) .