Rabu, 25 Juni 2008

Sanse penyakitan (contd)

Ngelanjutin postingan tentang sanse yang kena busuk basah dari Erwinia.
Sekarang sanse yang di foto dulu http://kiki-myownthing.blogspot.com/2008/06/sanse-penyakitan.html tinggal yang daun gedean doang. Yang kecilnya mati. Rekan sepotnya yang berdaun empat kini tinggal 3. Ternyata rendeman antibiotik nggak manjur-manjur amat dalam menjegal si Erwinia. Meskipun secara 2 minggu lebih masih pada bertahan hidup ya sebenernya kinerja air antibiotik nggak jelek-jelek amat kali, ketimbang nggak diapa-apain dalam 2-5 hari pasti tinggal mbuangnya ke tong sampah. So, peluang mencoba di lain waktu bisa diteruskan hehehe...

Beberapa hari yang lalu, sanse kirkii var pulchra sedaun yang kudapet dari MY's Nursery tanpa ketahuan udah mati kena si Erwinia ini (135k melayang hiks hiks). Herannya, sebatang jenis sama (dari Fesansevierianursery) yang kutaruh satu pot dengannya menter aja tuh, masih sehat wal'afiat ck ckck. Mungkin karena yang satu ini lebih gedean kali, jadi si Erwinia udah minder duluan untuk ngedeketin hehehe...so, yang udah mati biarlah mati, kita ganti dengan yang lain. Diikhlasin aja, ya khan?. Ya dong.

Eniwei, buat yang berani semprot-semprot pestisida dan kawan-kawannya, ini ada resep mengobati Erwinia dari Pak Yayan Pribadi yang Kiki kutip dari milis sansevieria_id@yahoogroups.com

Kalau kena erwina, biasanya lewat.
Kalau baru mulai kena, potong bagian yang sudah lembek basah, yang masih belum lembek mungkin masih bisa diselamatkan. Mungkin sisa tanaman masih bisa diselamatkan (kalau masih tersambung dengan rimpangnya atau tinggal sisa daunnya aja buat stek daun).
Caranya, sisa tanaman disemprot bakterisida lalu dikering anginkan, kalau perlu dijemur 2-3 hari.Terus digantung, jangan ditanam, selama beberapa hari sd 14 hari. Biasanya sampai kelihatan kering dan agak berkerut, baru ditanam lagi. Mungkin bisa selamat.Tidak ada jaminan, tergantung bakteri sudah menyebar kemana. Kalau dikering anginkan dan tetap mati, ya nasib lah.

Oh gitu ya Pak...makasih ya (sambil garuk garuk kepala eh kerudung yang nggak gatel...ya Alloh, semoga sanse-ku pada sehat aja yaa...Amin....pssst! mulai pagi ini semua sanse pada Kiki lepas mejeng di teras untuk menikmati sentuhan langsung matahari pagi siang sore).

Selasa, 17 Juni 2008

Sanse badminton

Demam badminton masih aja berlangsung di rumah.
Kalo Indonesia kalah di Uber dan Thomas Cup sekaligus, maka di rumah Kiki yang kalah adalah salah satu sanse-ku yang kata beberapa orang bernama midnight star atau midnight fountain (lihat jualannya Pak Dwi Pur di http://indonetwork.co.id/griya_sanse/754381/midnight-fountain.htm).

Kekalahan si sanse cukup telak, kena salah satu daun terpanjang. Lawannya adalah raket badminton yang melayang dengan kecepatan penuh dari jalanan depan rumah sampai ke teras.
Pelakunya? sudah jelas Abim cintaku yang belum genap berumur 8 tahun.

Marah? Iya.
Diterima dipeluk disadari kehadiran marahnya selanjutnya berusaha diikhlaskan dipasrahkan dilepaskan dengan cara yang benar. Pastinya bukan dengan dilampiaskan (ingat hukum 10/90-nya Oom Covey = 10% kejadian berada di luar kendali, 90% lanjutannya tergantung pada respon kita terhadap kejadian tersebut).

Oke, itu hanya tanaman, dia mungkin berada di tempat yang salah sore itu. Nggak lepas dari kreativitas bibik yang pingin menampilkan sisi terbaik dari si sanse (dipindah-pindah tempat naroknya).

So, rasanya terlalu berlebihan apabila Kiki respon dengan teriakan amarah semusim yang dapat membekas permanen di hati putra cilikku dan bibik-ku.

Alhamdulillah di tengah kecamuk rasa tadi Masku pulang kerja. So cukup alasan bagi Kiki untuk diam-diam menghilang masuk kamar, berendam air hangat, sambil mencoba mengamati perasaan yang silih berganti nggak keruan. Oke, aku terima rasa marah ini tapi lalu tanaman yang sudah patah mau diapain?.

Well setelah merenung dua jenak, Kiki turun lagi ke ruang tengah. Patahnya si sanse ada di titik tumbuhnya. Mau dipatahin sekalian belum tega, ya sudah akhirnya kuambillah sebuah garpu plastik dan kusangga sang sanse dengan garpu tadi. Setelah yakin ia dalam posisi yang benar dan baik, Kiki beringsut balik masuk kamar dan tidur.

Diam sambil berusaha memahami rasa diri jauh lebih baik ketimbang berkata-kata yang berpotensi memperburuk suasana dan justru dapat mematahkan hati orang tercinta di sekitarku.

Alhamdulillah... pagi ini suasana kembali normal.
Semua berjalan baik seperti sedia kala, bahkan luar biasa baik karena Kiki yakin semua kejadian sudah sempurna seperti adanya hehehe...

Eniwei...please ya helep saran dari para pencinta sanse tuk ngobatin daun yang patah...soalnya si garpu penyangga mau dipake makan indomie lagi hehehe...

Senin, 16 Juni 2008

Sanse Internetan (2)

Sembari menikmati sakit pasca acara WP-BIS di Shangri-La, ceritanya rajin beli sanse via internet. Ada dari MY's nursery di Medan (pesen 6 dapet 10, hebat khan...?, makanya hayuk ramaikan lapaknya tante Maya hehehe...), dari Fesansevierianursery di Sukoharjo dan Pak Bima Sakti di Pati (sanse sendok kecilnya aka concinna-nya cantik tenan loh Pak).



Nih mereka...lucu-lucu khan...beberapa masih bayi hiks hiks...

Rabu, 11 Juni 2008

Sanse nama: be careful!

Duapuluh menitan ini dihabiskan ngintip obrolan komunitas sanse. Berikut sekedar cuplikan info dari Mr Cereusly Steve, sang pakar di forum tersebut dalam menanggapi nama-nama “ngepop” sanse (khususnya di Indo dan Thailand)…

Many of the plants in the Indonesian and Thai collections are renamed plants.
The amateur vanity picture books out there are full of errors and pictures of plants that are misidentified
. They are obviously renamed plants. I wince ever time I see a new one come out. Its getting ridiculous and increasingly worse. It is impossible for you to "strive painstakingly to get the correct names of the plants" when most of the original publications are not accessible to you and most of the relevant information is still unpublished. So where on earth would you be getting the correct info? It has taken me years to round up all the original information in various libraries, sometimes with the help of other researchers. Your best source for info would be the Sansevieria journal and there is still a lot more yet to be said on the subject. (http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4633)

Sebagai penutup, dalam imilnya yang lain beliau ini bilang…
It is up to you to enjoy growing the plants. Leave the headaches of nomenclutter to those already working on it. http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4639

(nggak berani ngebayangin gimana komen Om Cereusly Steve ini kalo sempet ngebaca nama-nama sanse di blog Kiki hihihi –secara terbitan Trubus aja belum recommended (lihat di http://groups.yahoo.com/group/Sansevieria/message/4635) -- so ampyun ya Om Steve, Kiki cuma gemar menanam dan merawat, tarok-tarok nama disitu sekedar biar bisa ngobrol dengan sesama penggemar doangan koq…cleguk cleguk…peace ya Om…)

Selasa, 10 Juni 2008

Sanse berbunga

Setelah hampir 3 minggu si Lorentii kunaikkan pangkat menjadi penjaga pintu dalam, maka dia menghadiahiku bunga. Yep, bener...dia berbunga. Sebenernya udah sering sih liat bunga begituan setiap kali maen ke TBN, cuma.... itu khan bukan milik sendiri...

("mom...no touchy touchy!" begitu kata si embak sambil geleng-geleng kepala setiap kali dia liat aku mulai keliatan gemez pengen nowel beragam bunga yang ada di TBN hehehe...).

Enjoy the pic:

Sanse ngepot

Maksudnya pot sanse gitu.
Bukan sanse yang suka kebut-kebutan naik motor.

Cuma mau sharing kalo pot itu pengaruh banget dalam ngebangun citra sanse.

Di bawah ini beberapa contohnya yang baru di-repotting pagi tadi (katanya Kiki lagi sakit....koq? hehehe).

Sekarang Kiki udah enakan koq, jadi malez periksa darah pula. Dihantem aja pake jus kurma. Glek glek!

Oh ya kembali ke soal pot.
Para pencinta sanse tentunya udah pada punya buku "Sansevieria Wonderful Collection" dari Flonaserial khan?. Disitu tiap sanse duduk tegak (kalo berdiri khan cape kali hehehe) pada pot yang cantik berbahan keramik. Bagus-bagus deh potnya. Bikin ngiler.

Kebetulan kemaren ini di pameran kebudayaan di JHCC Senayan ada yang jualan pot keramik dengan harga yang IMHO wajar. Pelayanannya juga bagus. Begitu tahu bahwa Kiki nggak bawa kendaraan, maka sang penjual langsung berinisiatif nganter pot yang sak gdumbreng itu ke rumah. Dan esok harinya tuh pot satu doos udah nangkring di garasi.

Nah terus...bukannya jualan atau promosi. Hanya barangkali perlu, namanya Agung Keramik, kalo nggak di pameran maka doi mangkal di Bintaro Jaya. Percisnya PM Kiki aza ya...

Sanse koral biru

Sanse ini baru dapet minggu lalu.
Di Rawa Belong tepatnya, nggak jauh dari mesjid.
Kesananya rada maksa. Pulang kantor.

Perjalanan dimulai dari KBS naek ojek (biar ngga betjek hehehe...) ke Benhil (nekaaatttt...). Lalu dilanjut numpang mobil Om Herlan (soalnya aku ngga pernah hapal jalan kesana hehehe).

Ya tahu deh, nyampenya pasti waktu udah rada gelap aka bukan waktu yang tepat untuk lihat-lihat. Tapi secara nafsu (jujur nih...), rasanya oke aja dijabanin.

Si Pak Haji yang empunya lagi ngga ada, ya udah bertransaksi aja dengan istrinya. Setelah tawar sana-sini, akhirnya kugembol pulang dua jenis sanse.

Yang pertama ini, diakui sang penjual sebagai Coral Blue. Well secara Kiki belumlah jadi ahli penamaan sanse, hanya sekedar penikmat, maka please deh diintip wahai para pakar...apa iya gambar di atas itu adalah sanse yang kesohor itu? (mudah-mudahan iya please...please...please...ngerogoh dompetnya rada dalem nih hiks hiks).


Yang kedua ini katanya bernama Forskaoliana (bener gak gini nulisnya?).
Ini langsung dipotek dari induknya. Sepintas nggak terlalu istimewa, tapi paling sehat (dan berharga paling wajar) ketimbang jenis lain yang ada di sana.

Woooke deh...met gabung di rumah Kiki ya...dilarang beranteman...kalo soal itu cukup dimonopoli embak dan adek aja!

Sanse internetan (1)

Yep, dua jenis sanse ini kubeli dari salah satu forum jual beli di internet. Waktu itu sudah di-warning penjualnya bahwa salah satu sanse yang murmer itu kecil banget (bernama Francisii or so, katanya).

Tapi seperti biasa Kiki ngga begitu care dengan itu sampe beneran kirimannya dateng (rada lelet sih, musti di-SMS berkali-kali). Nih dia, Kiki share si murmer itu sekalian maen 'where's wally' kaleee...

Yang satunya sih rada lumayan.
Apalagi pas udah dikasih pot rada bagusan (mahalan potnya ketimbang sansenya hehehe...).
Kata yang jual sih jenis ini namanya Hahnii Steaker (kalo di buku sih "Hahnii Swirls", terserah deh mau percaya yang mana hehehe...).
Yang pasti daunnya meliuk-liuk laksana barusan ketiup angin kencang dari arah kanan. Warna daun hijau tua mengapit warna krem yang ada di tengah. Dari tiga pesanan, hanya ini yang mulus, selebihnya bertanda udah pernah kena cendawan...ck ck ck...kayaknya nggak pesen pake begituan deh...ekstra hadiah kali yeeeee ...hiks hiks hiks...eniwei makasih ya...



Sanse penyakitan

Tumbenan banget di Juni begini hujan masih turun.
Dengan berharap cemas pagi ini aku inspeksi ke teras. Sekedar info, ini hari kedua Kiki nggak ngantor. Badan semriwing dan kepala pusing. Hanya pastinya malah lebih pusing kalo nggak segera menindaklanjuti yang kutemui di depan sana. Yep...betul banget!...itulah si Erwinia tampak merayap di sela pasir dan batang bagian bawah.

Erwinia carotova.
Namanya sekeren serangannya.
Sejenis bakteri gram negatif yang mengeluarkan semacam enzim yang kemudian menghancurkan lapisan batang dan daun. Jadilah si batang 'lenyet' atau 'penyet' atau apalah gitu yang rada yucky blucky dengan bau yang semerbak busuk. Penyebarannya cepat, so harus ditindak ASAP.


Kata buku sih, si Erwinia ini bisa ditangkal dengan menghindari kondisi basah yang berlebihan dan menjaga sanitasi di sekitarnya (ini maksudnya apa ya...lantainya dipel 1x sehari apa belum cukup? hikhik). Tapi kalo udah terlanjur kena ya mohon maaf...harus dipotong, dibuang, diberi bakterisida atau mengolesinya dengan antibiotik.

Fiuh...sounds like a torture to me...

Potong...hikhik....oke...I did that.
Buang...hikhik....oke...if I had to.
Bakterisida...antibiotik....nah loh....eng ing eng...ini yang nggak punya.

Sejauh ini, kalau memungkinkan, Kiki selalu berusaha ngasih segala yang organik. Seperti kemarin waktu ada tanda serangan cendawan, maka minyak tawon-lah sebagai obat. Simply diolesin sehari sekali dibintik calon lukanya pake cotton buds. Lah lalu kalo yang ini pake apa ya?

Oke, namanya juga percobaan. Tinkering kalo kata prof. Bruton.
So, apa yang ada di rumah ya?

Oke deh, agak melawan tata krama organik nih, kebetulan aku punya persediaan antibiotik minum banyak banget. Secara pastinya tuh antibiotik bakal jatuh ke tempat sampah maka nggak ada salahnya mencoba menggerus setengahnya, mencampur dengan segelas air matang hangat, lalu merendamkan sang sanse yang udah dicuci dan dibuangi bagian busuknya ke situ.

Setelah rendem 2-3 detik, kuanginkan lalu kuolesi betadine (hehehe...emang jatuh dari sepeda?). Lalu kubiarkan di teduhan sekitar sejaman, baru deh kutanem lagi di media pasir malang doang.

Hasilnya? Well jangan nanya sekarang.
Kasih waktu semingguan ini ya.
Kalo mati ya sudah takdirnya, kalo hidup ya juga begitu.

We'll see...