Selasa, 17 Juni 2008

Sanse badminton

Demam badminton masih aja berlangsung di rumah.
Kalo Indonesia kalah di Uber dan Thomas Cup sekaligus, maka di rumah Kiki yang kalah adalah salah satu sanse-ku yang kata beberapa orang bernama midnight star atau midnight fountain (lihat jualannya Pak Dwi Pur di http://indonetwork.co.id/griya_sanse/754381/midnight-fountain.htm).

Kekalahan si sanse cukup telak, kena salah satu daun terpanjang. Lawannya adalah raket badminton yang melayang dengan kecepatan penuh dari jalanan depan rumah sampai ke teras.
Pelakunya? sudah jelas Abim cintaku yang belum genap berumur 8 tahun.

Marah? Iya.
Diterima dipeluk disadari kehadiran marahnya selanjutnya berusaha diikhlaskan dipasrahkan dilepaskan dengan cara yang benar. Pastinya bukan dengan dilampiaskan (ingat hukum 10/90-nya Oom Covey = 10% kejadian berada di luar kendali, 90% lanjutannya tergantung pada respon kita terhadap kejadian tersebut).

Oke, itu hanya tanaman, dia mungkin berada di tempat yang salah sore itu. Nggak lepas dari kreativitas bibik yang pingin menampilkan sisi terbaik dari si sanse (dipindah-pindah tempat naroknya).

So, rasanya terlalu berlebihan apabila Kiki respon dengan teriakan amarah semusim yang dapat membekas permanen di hati putra cilikku dan bibik-ku.

Alhamdulillah di tengah kecamuk rasa tadi Masku pulang kerja. So cukup alasan bagi Kiki untuk diam-diam menghilang masuk kamar, berendam air hangat, sambil mencoba mengamati perasaan yang silih berganti nggak keruan. Oke, aku terima rasa marah ini tapi lalu tanaman yang sudah patah mau diapain?.

Well setelah merenung dua jenak, Kiki turun lagi ke ruang tengah. Patahnya si sanse ada di titik tumbuhnya. Mau dipatahin sekalian belum tega, ya sudah akhirnya kuambillah sebuah garpu plastik dan kusangga sang sanse dengan garpu tadi. Setelah yakin ia dalam posisi yang benar dan baik, Kiki beringsut balik masuk kamar dan tidur.

Diam sambil berusaha memahami rasa diri jauh lebih baik ketimbang berkata-kata yang berpotensi memperburuk suasana dan justru dapat mematahkan hati orang tercinta di sekitarku.

Alhamdulillah... pagi ini suasana kembali normal.
Semua berjalan baik seperti sedia kala, bahkan luar biasa baik karena Kiki yakin semua kejadian sudah sempurna seperti adanya hehehe...

Eniwei...please ya helep saran dari para pencinta sanse tuk ngobatin daun yang patah...soalnya si garpu penyangga mau dipake makan indomie lagi hehehe...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Patah ya.. he3x, itu mah udah biasa, awal2 dulu memang bikin sesak n marah juga tentunya, lama2 kebal ya ikhlasin saja..
sanse silindrica berdaun tebal memang gampang patah di daun baru pas titik tumbuhnya, jadi harus hati2.
kalau patah jangan langsung dipatahin/ditarik di ketiaknya biarkan saja dulu sampai tidak tumbuh lagi dan muncul daun baru. kalau dipaksakan dibuang nanti akan tumbuh lagi dan setiap kita membuang sangat beresiko melukai daun baru yang masih sangat kecil/lunak. kalau daun baru sudah keras baru boleh dicabut di ketiaknya, kalau rapi mencabutnya insyaAllah tidak akan kelihatan kalau bekas patah, tapi ya itu tadi harus sabar... pengalaman si S tom grumbley yang ada fotonya di blog, itu baru saja patah daun barunya..
sanse saya juga baru mati kena busuk bonggol.. masoniana variegata golden 2 daun, udah berusaha diselamatkan tetapi ya akhirnya mati juga... tau kan harganya ^_^ , ya tapi akhirnya hanya satu kata saja di ikhlaskan...
sesayang2nya kita pada poon masih lebih sayang ke anak/istri jadi kalau mereka matahin ya dinasehatin saja, lain kali lebih hati2 n disimpan di tempat yang lebih aman... pengalaman pribadi lho...
estu
http://foto-sansevieria.blogspot.com

Kiki mengatakan...

Makasih ya emasestu, spesial Kiki prin tuh teknik-teknik "how-to" - nya. Ntar Kiki tempel di potnya si sanse-badminton, untuk pengingat supaya bersabar dan mengikhlaskan garpu itu untuk nongkrong lebih lama disana hehehe...

Turut berduka cita buat sanse-matinya. Semoga kelak dapet ganti yang lebih ciamik. Kalo jadi ikutan pameran Trubus tanggal 26 yad, please info-info ya. Insya Alloh mampiiiirrrrrr!.